Program Lotim Berkembang Belum Memuaskan

Rapat evaluasi Lotim berkembang dipimpin Wakil Bupati Lotim, Selasa, 24 November 2020.(Suara NTB/ist)

Selong (Suara NTB) – Wakil Bupati Lotim, H. Rumaksi Sjamsuddin menilai realisasi Program Lombok Timur Berantas Rentenir Melalui Kredit Tanpa Bunga yang diakronimkan dalam kata Lotim Berkembang belum memuaskan. Dari target 1.500 peternak, baru terealisasi 736 peternak.

“Ini belum cukup memuaskan,” tegas Wabup saat memimpin pertemuan rapat evaluasi yang digelar di ruang rapatnya, Selasa, 24 November 2020. Diliris oleh Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan (PKP) Lotim, Iswan Rakhmadi, Wabup telah menegaskan Program Lotim berkembang sudah diluncurkan September lalu. Besar harapannya, hingga akhir tahun ini dapat mencapai target yang telah ditetapkan.

Diketahui dari dua bank penyalur, terealisasi baru Rp11 miliar. Rumaksi berharap semua pihak yang terkait dengan program ini dapat berupaya lebih maksimal. Wabup menilai penting pula untuk menyamakan persepsi antara bank mitra dengan pemerintah serta dengan masyarakat.

Program Lotim Berkembang yang suku bunganya disiapkan Rp5 miliar oleh pemerintah Lotim ini tidak menyasar pengusaha. Sasaran program adalah masyarakat kurang mampu. Tujuan program ini adalah untuk mempercepat penurunan kemiskinan.

Rumaksi yang juga ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB ini menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk pengentasan kemiskinan. Program Lotim berkembang ini wajib dikawal hingga tuntas.

Terungkap, salah satu kendala diakui pihak perbankan adalah kondisi internal terkait verifikasi data calon penerima. Seperti pengakuan dari pihak BRI, kata Iswan Rakhmadi, ada kendala pada proses verifikasi. Ada dua program pemerintah yang harus diakomodir secara bersamaan. Yakni, bantuan untuk UMKM.

Pihak perbankan kata Iswan tetap optimis program Lotim berkembang ke depan bisa lebih optimal. Prediksi dari pihak BRI, sekitar 500 peternak bisa dicairkan sebelum akhir tahun 2020 berakhir. Sementara itu dari pihak Bank Negara Indonesia (BNI) menyanggupi target 250 peternak. Poin lainnya yang juga dibahas adalah belum optimalnya komunikasi OPD terkait dengan pihak perbankan.

Sementara itu ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK ) NTB, Farid Faletehan mengingatkan pentingnya sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat peternak terkait subsidi bunga kredit usaha rakyat (KUR) melalui Lotim Berkembang. Diketahui ada sejumlah masyarakat yang mengundurkan diri. Menurutnya, hal itu menjadi bukti masyarakat belum sepenuhnya memahami bantuan yang diterima. (rus)