Program JPS Bantu UKM di Mataram Bertahan Hadapi Pandemi

Septia Erianty menunjukkan salah satu produk kosmetik lokal produknya.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Dampak pandemi virus corona (Covid-19) terhadap usaha kecil menengah (UKM) cukup terasa. Terutama pada omzet yang mengalami penurunan hingga 50 persen pada Juli – Agustus lalu.

Salah satunya seperti dialami industri kosmetik lokal di Kota Mataram. “Penurunnya sangat singnifikan. Dari  yang sebelumnya bisa sampai 100 persen, sekarang ngedrop jadi 50 persen,” ujar Pemilik CV Organic Lombok Indonesia, Septia Erianty, Jumat, 4 September 2020.

Iklan

Diterangkan, sejak awal terjadi kasus covid-19 ini di NTB kondisi usahanya memang masih tetap berjalan. Bahkan masker komedo yang baru saja diproduksinya saat itu sempat laris manis di pasaran. Melihat kebutuhan masyarakat yang tinggi untuk hand sanitizer, dirinya juga sempat mengambil inisiatif untuk memproduksi sebagai salah satu UKM lokal.

“Itu kita laris, naik penjualannya. Ditambah lagi dengan program dari pemerintah yang JPS (Jaring Pengaman Sosial) Gemilang. Kita diminta buat sabun sebanyak 100 ribu. Kita baru berasa di bulan Juli dan Agustus ini turun,” jelasnya.

Menurutnya, peogram JPS Gemilang yang diusung pemerintah memang menyelamatkan usahanya pada masa awal pandemi. Namun dengan berakhirnya tiga tahapan penyaluran bantuan tersebut, pihaknya mulai merasakan dampak pandemi.

“JPS itu yang membuat kita akhirnya punya dana cadangan, sehingga ketika terjadi penurunan omset pun masih punya tabungan dari hasil keuntungan dari pengadaan sabun kemarin,” ujar Septia.

Di sisi lain, produksinya juga mulai melakukan pengurangan. Dicontohkan pada masa awal pandemi usaha yang dikelolanya mampu memproduksi hingga 500 pcs produk kecantikan per hari. Namun saat ini terbatas 100 – 200 pcs per minggu.

“Itu dalam seminggu sudah paling bagus kalau 500 pcs. Bisa kebayang kan biasanya kita bisa jual ribuan, sekarang sudah sangat turun,” jelasnya.

Karena produksi yang menurun, permintaan barang pun diakuinya mengalami penurunan. Terutama dari agen-agen distributor produk miliknya di beberapa daerah di Indonesia. “Dulunya agen kita bisa belanja Rp25-30 juta per bulan, sekarang Rp5 juta sudah bagus. Untungnya kita masih ada tabungan dari sebelum-sebelumnya jadi masih bisa diatasi,” tandasnya. (bay)