Program Jasling Tak Jelas, Warga Narmada Mengeluh Tak Dilayani PDAM

Turmuzi dan Tunik Haryani dan Surya Harpandi (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Ribuan jiwa penduduk di sejumlah desa di Kecamatan Narmada mengeluh kesulitan mendapatkan air bersih. Meskipun mendiami daerah dengan julukan “kota air”, namun mereka tak bisa menikmati pelayanan air bersih.

Ironisnya, demi mendapatkan air, mereka memasang pipa air secara swadaya. Sebagian warga bergantung dari perusahaan air minum desa (Pamdes) yang dikelolah desa. Program bantuan dari Pemerintah dan PDAM seperti jasa lingkungan dan retribusi kebersihan tak banyak dirasakan warga, mereka pun mempertanyakan ke mana dana miliaran rupiah tersebut diarahkan.

Iklan

Seperti dialami warga di Dusun Presak Desa Presak Kecamatan Narmada. Surya Harpandi, mengakui telah lama penduduk di desanya tak disentuh pelayanan air bersih sebab jaringan perpipaan belum masuk ke daerah setempat. Hal ini menjadi keluhan terus menerus dari warga, sebab sulit mendapatkan air bersih.

“Di kampung kami sebagai sumber mata air tetapi tidak tersentuh pelayanan air bersih dari PDAM. Ini sering sekali dikeluhkan warga,” keluhnya Selasa, 5 Februari 2019.

Warga sudah mengusulkan pemasangan pipa. Hanya saja dari beberapa kali warga mengusulkan belum ada tindaklanjut. Pihak terkait berlasan jaringan pipa yang menuju ke derah itu tidak ada. Padahal desanya sendiri tak jauh dari Taman Narmada.

Diakui di daerahnya ada bantuan pompa dari BWS, hanya saja pompa ini macet. Ia sendiri tak tahu apa kedalanya.  Hal serupa dialami warga Desa Lembah Sempage. Ribuan warga di daerah ini tak menikmati pelayanan air bersih dari PDAM. Jangankan bisa menikmati air bersih dari PDAM, bantuan sarana prasarana air bersih saja belum memadai diperoleh oleh warga setempat. Akibatnya, mereka pun bergantung dari mata air yang dialirkan menggunakan pipa secara swadaya.

Kades Lembah Sempage, Turmuzi Senin, 4 Februari 2019 menyebutkan, 4.083 jiwa penduduknya tak mendapatkan pelayanan publik yang memadai dari sisi kebutuhan air. Diakui daerahnya belum masuk menjadi pelanggan PDAM. Sebab kondisi daerah yang memiliki ketinggian (elevasi) sehingga air tidak bisa naik.

Karena dirasa sulit mendapatkan pelayanan PDAM, warga berharap dibantu sarana prasarana perpipaan air bersih. Hanya saja harapan itu belum terpenuhi.

“Bantuan yang diberikan sekedar berupa sembako, tidak ada dalam bentuk pemeliharaan mata air. Padahal daerah kami diambil airnya,” jelas Kades yang akan berakhir masa jabatannya 6 Februari mendatang.

Anggota DPRD Lobar Dapil Narmada-Lingsar, Tunik Haryani mengatakan pihaknya sering menyuarakan perihal pemenuhan kebutuhan air bagi warga Narmada. Hanya saja belum jelas tindaklanjutnya. Padahal kata dia ada program Jasling dan retribusi kebersihan yang bisa diarahkan kepada warga setempat. Ia mempertanyakan ke mana dana yang dipungut tersebut.

Sementara itu, Kadis Lingkungan Hidup, HL. Surapati mengatakan terkait retribusi kebersihan yang ditarik melalui PDAM disetorkan ke Pemda. Wujudnya, kata dia,  dinas akan dibantu untuk pengadaan kendaraan kebersihan. Tahun ini akan ada pengadaan dua unit.

Tahun ini, jelas dia, retribusi kebersihan ditargetkan Rp2,5 miliar naik dari Rp2,27 miliar lebih. Sedangkan terkait Jasa lingkungan yang sebelumnya dikelola Institusi multi pihak (IMP), Surapati mengaku tidak tahu sebab sejauh ini belum ada program dan kegiatannya. (her)