Produksi Sabu Rumahan, Transfer Ilmu Buat Sabu Via Panggilan Video

Narapidana kasus narkoba Jenderal Yusuf (paling kiri) yang diduga menginisiasi produksi sabu rumahan saat diamankan di Mapolda NTB dan dihadirkan dalam konferensi pers Minggu, 22 November 2020.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Produksi sabu rumahan terbongkar di Pringgasela, Lombok Timur akhir pekan lalu. Pentolannya, narapidana Lapas Mataram yang dikenal dengan Jenderal Yusuf. Mantan TKI ini yang mengajari Ustaz Hadi membuat sabu yang barangnya didatangkan dari Malaysia. Cara membuatnya dipelajari dengan bantuan orang lain secara online.

Jenderal Yusuf buka suara saat diamankan di Mapolda NTB, Sabtu, 21 November 2020 usai dikeluarkan dari sel penjara Lapas Mataram. Dari dalam sel itu dia sebelumnya mentransfer ilmu membuat sabu. Awal mula perkenalannya dengan barang haram itu ketika dia bekerja sebagai pekerja migran di Malaysia. Tahun 2014 lalu dia pulang kampung. Setahun berselang, Jenderal Yusuf dibekuk polisi atas kasus peredaran narkoba. Vonis penjaranya 10 tahun. Pidananya baru dia jalani empat tahun.

Pandemi Covid-19 membuatnya makin kreatif mencari uang untuk membiayai hidupnya di dalam penjara. Teringatlah dia pada kawannya semasa di Malaysia. Komunikasinya membuahkan ide membuat sabu di Lombok karena terbatasnya pergerakannya di dalam penjara. Dia lalu menjual rumahnya seharga Rp300 juta. “Saya kirim uang Rp200 juta ke teman itu. Tapi saya ini ditipu barang yang saya pesan tidak datang-datang,” ujarnya menjawab interogasi Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra.

Jenderal Yusuf itu hanya berkilah. Barang pesanannya tiba dengan selamat di rumah Ustaz Hadi. Pengakuan Yusuf hanya untuk berkelit saja dari sangkaan. Hadi menceritakan sendiri bagaimana Jenderal Yusuf memintanya mengambil paket kiriman. Kemudian mengajarinya membuat sabu. “Saya disuruh buat ruangan khusus untuk membuat sabu itu di rumah. Belum bisa jadi sabu,” sebut Hadi mengakui setelah sebulan meramu bahan. Antara lain cairan Mekiheitamin, cairan Mixsofer, dan Dimethyl Sulfoxide.

Hadi mengaku dijanjikan Jenderal Yusuf berupa upah Rp100 juta. Ketentuannya apabila berhasil meramu sabu tersebut. Namun, hasilnya mereka ditangkap polisi. Produksi sabu terhenti. Sementara Helmi mengungkapkan, Jenderal Yusuf membuat sabu berbekal mentor kawannya di Malaysia. Belajarnya via panggilan video dari dalam sel. Dari dalam sel itu juga dia mengajari Ustaz Hadi. “Kami masih dalami apakah sabu yang mereka coba buat itu sudah beredar atau tidak. Mereka memang mengaku sudah mencoba membuatnya,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Polda NTB menggerebek sebuah rumah yang diduga sebagai pabrik sabu, Sabtu, 21 November 2020 pukul 15.30 Wita. Didapati dua orang berinisial UT alias SS (45) warga Pringgasela, Lombok Timur dan RW alias RIS (42) warga Masbagik, Lombok Timur. SS yang dikenali dengan panggilan ‘Ustaz’ diduga sebagai pemilik pabrik sabu. Sementara SS sebagai pembantunya.

Dua jam sebelumnya, digerebek delapan orang di kamar kos di kawasan Muhajirin, Selong, Lombok Timur. Mereka antara lain para pengedar berinisial SRA (24), RS (27), DG (24); kurir narkoba berinisial RZ (23), LN (27), RAK (36); bandar narkoba berinisial HM (37), dan seorang pembeli berinisial DY (32). Dari kamar SRA ditemukan 10 poket sabu seberat 15,28 gram, plastik klip, timbangan digital, lima ponsel pintar, dan alat hisap. Di kamar RS ditemukan satu klip sabu seberat 0,44 gram, timbangan digital, alat hisap, dan uang tunai Rp2,45 gram; di kamar LN dan RAK ditemukan klip kecil sabu 0,4 gram, dua ponsel, dan uang tunai Rp7,1 juta. (why)