Produksi Padi NTB Turun 0,06 Juta Ton

Ilustrasi padi (pexels)

Mataram (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB merilis penurunan produksi padi NTB tahun 2019 kemarin. Penurunannya mencapai 0,06 juta ton. Kabid Statistik Produksi di BPS NTB, Dr. Mohammad Junaedi, Senin, 2 Maret 2020 menjelaskan, berdasarkan hasil Survei KSA, pola panen padi di NTB pada periode Januari sampai dengan Desember tahun 2019 sedikit berbeda dengan pola panen tahun 2018.

Puncak panen padi tahun 2019 terjadi pada Bulan April, sedangkan tahun 2018 Bulan Maret, sementara luas panen terendah pada tahun 2018 dan 2019 terjadi pada Bulan Desember. Total luas panen padi pada 2019 seluas 281,67 ribu hektar dengan luas panen tertinggi terjadi pada April, yaitu sebesar 77,58 ribu hektar dan luas panen terendah terjadi pada Desember, yaitu sebesar 4,98 ribu hektar.

Iklan

Jika dibandingkan dengan total luas panen padi pada 2018, luas panen padi pada 2019 mengalami penurunan sebesar 7,58 ribu hektar (2,62 persen). Sementara total produksi padi di NTB pada 2019 sekitar 1,40 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), atau mengalami penurunan sebanyak 0,06 juta ton (3,98 persen) dibandingkan tahun 2018.

Kenaikan produksi padi tahun 2019 yang relatif besar terjadi di Kabupaten Lombok Timur dan Sumbawa Barat. Sementara, kata Dr. Junaedi, penurunan produksi padi tahun 2019 yang relatif besar terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Bima, Sumbawa dan Dompu. Tiga kabupaten/kota dengan produksi padi (GKG) tertinggi pada tahun 2018 dan 2019 adalah Kabupaten Lombok Tengah, Sumbawa, dan Lombok Timur.

Namun, pada 2019 terjadi penurunan produksi pada Kabupaten Lombok Tengah dan Sumbawa dibandingkan dengan produksi 2018. Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi padi pada 2018 setara dengan 0,83 juta ton beras. Sementara itu, produksi pada 2019 sebesar 0,79 juta ton beras, atau mengalami penurunan sebesar 0,03 juta ton (3,98 persen) dibandingkan dengan produksi tahun 2018.

Sejak tahun 2017, perhitungan luas lahan baku sawah disempurnakan melalui verifikasi dua tahap. Verifikasi tahap pertama menggunakan citra satelit resolusi sangat tinggi. Pemanfaatan citra satelit dalam statistik pangan telah dibahas dalam lokakarya internasional yang melibatkan FAO, IFPRI, Kementerian Pertanian, BPPT, MAPIN, IRRI, BPS, dan BIG di Kantor Staf Presiden pada tanggal 27 November 2017.

Citra satelit resolusi sangat tinggi yang diperoleh dari LAPAN kemudian diolah oleh BIG mengunakan metode Cylindrical Equal Area (CEA) untuk dilakukan pemilahan dan deliniasi antara lahan baku sawah dan bukan sawah. Metode ini menghasilkan angka luas sawah yang aktual sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Verifikasi tahap kedua dilakukan melalui validasi ulang di lapangan oleh Kementerian ATR/BPN. Masukan informasi dari hasil KSA BPS juga digunakan dalam validasi ulang di lapangan oleh Kementerian ATR/ BPN.

Sampai Oktober 2018, verifikasi 2 tahap ini telah dilakukan di 16 provinsi sentra produksi padi (termasuk NTB). Sebelumnya, dirilis Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Tahun 2019 lalu, NTB menargetkan luas tanam padi di sawah 368.000 hektar dan 16.000 hektar luas tanam padi di ladang. Sementara tahun 2020 ini, target luas tanam 350.000 hektar lahan sawah dan 130.000 hektar tanam di lahan ladang. Dengan luas areal tanam padi yang ditargetkan tahun 2020 ini, dihitung rata-rata produksi 55 kuintal perhektar, maka akan terakumulasi produksi mencapai 2,6 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). (bul)