Produksi Kendaraan Listrik di NTB Terkendala Pasar

Nuryanti (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Produksi kendaraan listrik oleh SMK dan IKM di NTB disebut semakin menggeliat. Namun hal tersebut diakui masih mengalami kendala, terutama terkait pemasaran.

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti, SE.ME, menerangkan rencana pemerintah untuk memasukkan pembelian kendaraan listrik ke dalam anggaran belanja OPD memang terhambat. Pasalnya, seluruh anggaran belanja tersebut terkena refocusing untuk penanganan pandemi virus Corona (Covid-19) yang berlangsung.

Iklan

‘’Untuk belanja OPD memang terkena refocusing, jadi prioritas dulu (yang dikerjakan). Untuk mobil listrik (misalnya) kita masih ada beberapa tahapan pengembangan. Ini baru tahap pertama,’’ jelas Nuryanti, dikonfirmasi, Jumat, 19 Juni 2020.

Menurutnya, pengembangan tersebut merupakan aspek penting dalam produksi. Khususnya untuk meningkatkan kualitas dan menurunkan harga jual ke depannya. ‘’Jadi sekarang ini sampai tiga bulan ke depan kita akan meluncurkan (versi) 0.2,’’ ujarnya.

Sampai saat ini NTB telah berhasil mengembangkan beberapa jenis kendaraan listrik. Diantaranya kendaraan listrik roda empat dan tiga untuk mengangkut barang yang dikembangkan oleh IKM dan SMK di Lotim dan Lobar. Serta kendaraan roda dua yang dikembangkan di UTS, Sumbawa.

‘’Untuk kendaraan listrik yang modelnya roda tiga dan roda empat spesifikasinya sudah ada di IKM dan sudah bisa semua (memproduksi),’’ jelas Nuryanti. Ke depan, pihaknya juga mengembangkan produksi suku cadang untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik tersebut.

Di sisi lain, pemasaran kendaraan listrik produksi NTB diproyeksikan melalui peran BUMD seperti Gerbang NTB Emas (GNE). Termasuk melalui belanja OPD jika alokasi anggaran sudah kembali normal.

Diterangkan, meski saat ini belum memiliki pasar yang jelas pengembangan kendaraan listrik di NTB akan terus dilakukan. Menginat pemetaan IKM dan SMK juga sduah dilakukan di beberapa lokasi, baik di Lombok maupun Sumbawa.

Dengan adanya IKM yang memproduksi suku cadang, pihaknya berharap kebutuhan-kebutuhan untuk kendaraan listrik tersebut bisa terpenuhi. Termasuk untuk menekan harga jual sehingga bisa lebih bersaing di pasaran.

Dicontohkan seperti kendaraan listrik roda tiga yang ditujukan sebagai kendaraan pengangkut penumpang yang dijual dengan harga Rp50 juta. Harga tersebut diakui masih cukup mahal, mengingat biaya produksi pertama. ‘’Kalau kita sudah bisa produksi dalam jumlah banyak, harga pasti bisa lebih murah,’’ pungkas Nuryanti. (bay)