Produksi Jagung NTB Sudah Tercapai 1,6 Juta Ton

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi, mewakili gubernur melakukan panen jagung serentak nasional bersama Menteri Pertanian RI, SYL.(Suara NTB/bul)

Selong (Suara NTB) – Angka produksi jagung di Provinsi NTB sudah mencapai 1,6 juta ton lebih. Sudah mendekati target produksi tahun 202, sebanyak 1,7 ton. Capaian produksi jagung ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi di sela-sela mengikuti panen serentak nasional bersama Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo secara daring, Rabu, 29 September 2021.

Di NTB panen serentak juga dilakukan di seluruh kabupaten/kota, kecuali Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Muhammad Riadi sendiri mewakili Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah melakukan panen jagung di Desa Beriri Jarak Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur pada lahan jagung siap panen seluas 20 hektar.

Iklan

Riadi mengatakan, produksi jagung di NTB terus mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2021 ini, ia meyakini target prooduksi akan tercapai, bahkan melampaui. Pada Bulan September 2021 ini, luas areal panen jagung di NTB mencapai 12.462 hektar, atau setara dengan angka produksi 58.368 ton. Kemudian Bulan Oktober 2021, areal yang akan dipanen rencananya seluas 8.281 hektar, atau setara dengan produksi 38.785 ton. Kemudian pada November 2021 sekitar 53.926 ton prpduksi.

“Kalau Desember, kita lihat dulu karena ditanamnya di Oktober dan panennya Desember, belum bisa kita hitung datanya. Tapi proses penanaman masih berlangsung walaupun tidak masif,” katanya. panen paling luas, lanjut kepala dinas terjadi pada Bulan November dan Desember. Karena bersamaan dengan musim hujan, hampir semua lahan tadah hujan dapat dimanfaatkan. Secara nasional saat ini mengemuka rencana pemerintah melakukan impor jagung. Karena dianggap ketersediaan stok jagung di dalam negeri saat ini tidak mencukupi.

Harga jagung juga saat ini tinggi, sampai Rp5.000an perkilo. Impor atau tidaknya, kata kepala dinas, sepenuhnya mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Ia mengibaratkan seperti salat berjamaah. Tatkala imam takbir, makmum juga akan ikut takbir. Demikian kira-kita pemerintah Provinsi NTB mengamimi kebijakan pemerintah pusat. Meskipun, provinsi NTB sebagai salah satu lumbung jagung nasional saat ini produksinya sangat baik.

“Apa yang dikatakan pak menteri (Menteri Pertanian), itulah sikap kami di jajaran di daerah. tentunya pemerintah mengambil kebijakan tidak dilihat dari satu sisi, melainkan dari dua sisi yang berbeda. Kepentingan peternak (jagung sebagai bahan baku pakan), dan kepentingan petani (sebagai produsen). Tapi by data, kita mencukupi untuk kebutuhan peternak,” jelas Riadi.

Terhadap harga saat ini, menurutnya, seperti yang disampaikan Menteri Pertanian SYL, sesekali biarkanlah petani menikmati harga tinggi. Agar merasakan lebih baik hasil jerih payahnya menanam. Jangan dalam posisi harga yang diterima selalu tertekan terus. Tetapi, kata Riadi, tidak boleh juga harga terus-terusan tinggi dan menzalimi peternak. Nantinya pemerintah sebagai pengadilannya.

Sementara itu, dalam pidatonya, Menteri Pertanian SYL menyampaikan, data Kementerian Pertanian bahwa Indonesia akan panen jagung sebanyak 15 juta ton. Kemudian untuk kebutuhan konsumsi 13 juta ton. Berarti ada kelebihan sampai 2 juta ton. Sisa produksi tahun 2020 yang masuk ke 2021 masih sebanyak 1 jutaan ton. Artinya total ada 3 juta ton cadangan. Setelah pengurangan 13 juta ton (untuk konsumsi maupun pakan ternak). “Kalau saat panen terjadi dinamika harga, itu adalah bagian lain yang harus ditangani secara bersama-sama,” demikian SYL. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional