Produksi Jagung Dompu Menurun Diduga Akibat Bibit dan Pupuk

Dompu (Suara NTB) – Produktivitas jagung di Kabupaten Dompu pada musim hujan 2017 – 2018 diduga menurun bila dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Kualitas bibit dan terbatasnya pupuk diduga menjadi penyebab utama rendahnya produksi jagung.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu pun berharap pemerintah pusat untuk memikirkan kembali rencana merubah pola penyaluran bantuan bibit jagung yang direncanakan 75 persen bibit produksi Litbang Kementerian dan 25 persen bibit hibrida umum.

Iklan

“Dulu ndak ada seperti itu. Sementara produk Litbang ini, petani belum siap untuk mengaplikasi. Apalagi ada indikasi benih palsu seperti yang dikirim St yang kita tolak (tahun 2017 lalu),” kata kepala bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Syahrul Ramadhan, SP kepada Suara NTB, Senin, 4 Juni 2018.

Diakui Syahrul, benih yang ditolak pihaknya karena diduga palsu berdasarkan keputusan tim sekitar 150 ton. Kontraktor pengadaan benih tersebut sudah dikenakan sanksi denda dan mengganti bibitnya. “Alhamdulillah sudah diganti dengan benih – benih yang memenuhi standar teknis,” katanya.

Ia pun berharap kepada pemerintah pusat, dalam memberikan bantuan benih bibit jagung disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing – masing. Karena antar wilayah, tidak sama karakteristik tanahnya. “Secara statistik belum pernah ambil ubinan. Tapi secara kasat mata, orang itu rata – rata turun dari sebelumnya. Biasanya 7,4 ton bahkan 8 ton, sekarang 5 – 6 ton per hektare,” katanya.

Selain faktor benih yang menyebabkan produksi jagung petani Dompu tahun 2018 ini menurun, juga disebabkan oleh terbatasnya kuota pupuk. Hal ini memberi peluang masuknya pupuk yang diduga palsu seperti yang ditemukan beberapa waktu lalu dan kasus pupuk illegal.

“Kebutuhan pupuk kita 32 ribu ton dari total luas tanam. Ketika kuota pupuk bisa dipenuhi, maka akan menghindari illegal farming atau pemanfaatan pupuk yang tidak sesuai atau pupuk palsu,” terangnya.

Faktor iklim juga mempengaruhi produksi jagung petani di Dompu. Beberapa lokasi, intensitas airnya tinggi. Tapi di daerah lain, hujan dengan intensitas tinggi langsung diikuti dengan panas berkepanjangan dan tidak stabil.

“Jadi run offnya terjadi. Terjadi busuk batang (pada jagung),” katanya.

Turunnya produksi jagung petani Dompu hampir merata. Sehingga harga jagung yang relatif stabil di posisi rata – rata Rp3 ribu per kg untuk jagung kering, petani tetap mengeluhkan rugi akibat produksi yang terbatas dan tingginya biaya produksi. (ula)