Produksi Bawang Putih Lokal Surplus

Bawang Putih Sembalun (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB memastikan produksi bawang putih di provinsi ini surplus. Harga tak mengalami lonjakan meskipun dihentikan masuknya bawang putih luar negeri. Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si terkait penyetopan masuknya komoditas hortikultura ini dari Tiongkok, setelah merebaknya virus corona dari Wuhan.

Husnul mengatakan, harus dipastikan kembali, apakah kenaikan harga bawang putih hingga Rp60.000/Kg terjadi karena kebutuhan yang tinggi dan tak sebanding dengan ketersediaan stok.Karena  hal ini terjadi di seluruh wilayah di Indonesia.

Iklan

Husnul mengatakan, konsumsi bawang putih nasional memang masih membutuhkan suplai dari luar negeri (impor) untuk mencukupi kebutuhan di dalam negeri. Pemerintah juga telah mengupayakan mengurangi ketergantungan dari luar. Salah satunya dengan menjadikan  NTB sebagai produksi  benih bawang putih nasional.

“Sekarang terjadi harga seperti ini, karena petani sudah sebelumnya panen. Namun sudah disiapkan benih untuk tanamnya di Februari, Maret. Oleh karena itu, wajar seperti ini (harga),” katanya.

Untuk bawang putih di dalam daerah, kepala dinas mengatakan produksinya surplus. Apalagi untuk bawang merah, produksinya melimpah. Demikian juga cabai. Surplus yang dimaksud adalah produksi dalam setahun mencapai 59.000 ton. Jika dilihat dengan kebutuhan dalam daerah, surplusnya dari total produksi mencapai 35.000 ton.

Dan perlu dipahami juga, surplus 35.000 ton ini tidak disimpan oleh petani, melainkan dikeluarkan untuk memenuhi permintaan dari luar daerah. “Itu masalahnya, tapi kalau bawang merah walaupun dijual ke luar daerah, ndak masalah,” katanya.

Lainnya, ketika terjadi situasi kenaikan harga seperti saat ini, kepala dinas menegaskan harus dipahami juga, ada pengaruh anomali iklim yang harus diperhatikan. Ada juga yang panen, tapi tidak bisa dilakukan karena hujan.

“Nanti pada saat Februari akhir, sudah muncul. Maret apalagi, yakin saya. Harganya tak segitu,” katanya. Yang terpenting, disparitas harga dijaga. Ditingkat petani harganya Rp60.000/Kg, kemudian di pasaran harganya Rp65.000/Kg. Menurut kepala dinas tak menjadi masalah.

“Yang salah, kalau harga di petani Rp15.000 sekilo, di pasaran Rp65.000 sekilo. Kasian petani. Cuma ya, jangan juga terlalu lama situasi seperti ini, kasian juga konsumen,” jelas Husnul Kamis, 6 Februari 2020.

Lalu terkait peningkatan kualitas produksi bawang putih menyamai kualitas produksi bawang impor yang digandrungi konsumen karena berumbi lebih besar, lebih mudah dibersihkan dibandingkan bawang putih lokal, kepala dinas mengatakan, bawang putih lokal jenis Sangga Sembalun, berumbi tidak kecil, tidak juga besar.

“Dibanding dengan bawang putih dari China,  itu kan sama saja rasanya. Bahkan kita agak legit, tastenya agak bagus,” demikian H. Husnul Fauzi. (bul)