Produk Lasingan, Binaan Inkubator Bisnis Unizar Menangkan Hibah Kemenparekraf

Pemilik Kopi Lasingan, Iskandar Zulqarnain saat menunjukkan produknya. Produk Kopi Lasingan yang merupakan tenant binaan inkubator bisnis Unizar berhasil menarik perhatian Kemenparekraf RI.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Produk Kopi Lasingan yang diproduksi oleh Iskandar Zulqarnain, B., ST., merupakan tenant binaan inkubator bisnis Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) berhasil menarik perhatian Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

Kopi Lasingan ini mendapatkan Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) yang diadakan oleh Kemenparekraf, sebagai upaya pemerintah membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif khususnya yang terdampak pandemi Сovid-19.

Iklan

Program Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) ini diperuntukkan bagi badan usaha yang bergerak di enam subsektor ekonomi kreatif yakni aplikasi, game developer, kriya, fesyen, kuliner, film, serta sektor pariwisata (13 jenis usaha pariwisata sesuai UU No 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan). Sehingga, Kemenparekraf mulai membuka BIP pada  tanggal 4 Juni hingga 4 Juli 2021, kemudian diperpanjang hingga tanggal 7 Juli, dimulainya open submission untuk proposal.

Ketua ITe Unizar, Dr. Ir. Sri Sustini, MM., menyampaikan, program BIP ini memiliki dua sub program yaitu BIP reguler dengan anggaran maksimal Rp200 juta dan BIP JPU (Jaring Pengaman Usaha) dengan anggaran maksimal Rp20 juta.

“Tahapan kegiatan program BIP terdiri dari open submission (pendaftaran), seleksi administrasi, seleksi kurasi proposal, pengumuman hasil seleksi, seleksi substansi dan wawancara (khusus untuk program BIP Reguler), verifikasi lapangan (khusus untuk program BIP Reguler), pengumuman calon penerima BIP, penandatanganan perjanjian, pencarian dana, pelaporan pertanggungjawaban dan monitoring evaluasi,” ungkapnya.

Perjuangan itu, lanjutnya, berbuah manis, pada tahun 2021, Universitas Islam Al-Azhar memenangkan kompetisi proposal BIP JPU yang diwakili oleh tenant dari Inkubator Bisnis Teknologi (ITe) pada sektor usaha kuliner.

Pada saat itu, ada empat proposal yang diajukan untuk ikut berkompetisi, pertama jenis program BIP JPU, pemilik usaha Fitriyatu Ningsih merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Unizar, brand Kentang Mustofa Mbak Fitri, jenis usaha Kuliner. Kedua, program BIP JPU, pemilik usaha Iskandar Zulqarnain merupakan staf di UNIZAR), brand Lasingan, jenis usaha Kopi.

Ketiga, program BIP JPU, pemilik usaha Narita Amni Rosadi, merupakan Dosen Fakultas Pertanian Unizar), brand Urban Farming, jenis usaha Jamur. Keempat, program BIP JPU, pemilik usaha Lina Aryati (umum) brand Rumah Kaos Lombok, jenis usaha Konveksi.

Dari ke empat proposal yang diajukan, tenant ITe yang berhasil memenangkan program hibah bantuan insentif pemerintah itu yakni Iskandar Zulqarnain dengan brand Lasingan yang memproduksi kopi. “Kami bangga atas dipercayanya Kopi Lasingan mendapatkan bantuan hibah pembinaan usaha kecil menengah ini,” kata dia.

Terkait hal itu, pemilik Kopi Lasingan, Iskandar Zulqarnain mengaku bangga brand usahanya masuk sebagai pemenang hibah BIP. “Anggaran yang saya terima akan digunakan untuk alat produksi kopi dan kemasan kopi. Semoga pengalaman dari tenant dari program tersebut bisa ditelurkan ke tenant lain, sehingga dapat membantu usaha tenan di tengah pandemi Сovid-19 bagi civitas akademika, tenant ITe Unizar maupun masyarakat secara luas, baik dari mahasiswa, dosen, alumni maupun masyarakat umum,” sebutnya.

Iskandar menceritakan sejarah kopi diberi merk Lasingan. Di mana, kata Lasingan ini merupakan bahasa Sasak, salah satu suku di Pulau Lombok. Lasingan adalah suatu ungkapan, yang artinya “habisnya” atau “makanya” atau bisa juga suatu ungkapan yang menyalahkan seseorang. Contohnya “lasingan kamu!” artinya : “habisnya kamu!”.

Pulau Lombok memiliki banyak jenis kopi seperti liberika, excelsa, robusta, dan arabika. liberika dan excelsa termasuk jarang ditemukan di Pulau Lombok, bisa dilihat di daerah Sembalun, itu pun agak susah dicari kebun kopinya.

Sementara Robusta banyak ditemukan di Pulau Lombok, dengan berbagai varietasnya, pun dengan berbagai karakteristik rasa kopinya. Contoh saja dari rasa kopi Robusta Desa Sajang (Lombok Timur) berbeda dengan Robusta Desa Santong (Lombok Utara), rasa kopi Robusta Desa Setiling (Lombok Tengah) berbeda dengan rasa kopi Robusta Desa Perian (Lombok Timur), masing-masing desa memiliki karakteristik rasa kopi Robusta yang berbeda-beda.

Kopi Arabika saat ini hanya ada di Kecamatan Sembalun (Lombok Timur), berada di ketinggian 1.000–1.300 meter di atas permukaan laut. Kopi Arabika Sembalun memiliki karakteristik rasa kopi yang unik, mungkin disebabkan oleh vulkano dari Gunung Rinjani.

Tanah vulkano memiliki karakteristik kopi yang unik. Lasingan melakukan panen kopi hanya dengan memetik biji kopi yang sudah bewarna merah. Ini membuat kualitas Lasingan bagus. Pasca panen pun dilakukan dengan berbagai pasca panen Full Washed, Semi Washed, Honey, Wine (Winey), dan Natural, sesuai dengan permintaan konsumen.

Beberapa varian kopi Lasingan memiliki karakter Fine Robusta dan Specialty Arabica. Saat ini Lasingan memilik varian kopi green beans, roasted beans, drip coffee, cold brew dan grounded coffee. Green beans adalah biji kopi mentah, roasted beans adalah biji kopi yang sudah di sangrai, drip coffee adalah kemasan kopi sachet siap minum yang sangat praktis (seperti menyeduh teh), cold brew adalah seduhan dingin (siap minum), dan grounded coffee adalah kopi bubuk.

Lasingan berdiri pada awal tahun 2018. Awalnya, Lasingan diawali sebagai re-seller produk-produk kopi dengan berbagai merek. Kemudian Lasingan dipercaya untuk membeli green beans coffee dan akhirnya dipercaya oleh petani-petani kopi untuk membeli cerry kopi, sehingga Lasingan bisa memproduksi sendiri dari awal berbagai proses pasca panen kopi. Bekerjasama dengan petani-petani kopi, Lasingan memberikan edukasi kepada petani kopi.

Lasingan juga termasuk orang yang membidani koperasi kopi yang pertama di Pulau Lombok, yaitu Koperasi Tani Bumi Lestari, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, dan termasuk anggota sampai saat ini. Produk Lasingan bersifat single origin, yang berarti mengacu kepada satu wilayah, tempat, atau daerah spesifik dan tak bisa direkayasa.

Lasingan mengacu pada kopi organik, tidak memproduksi kopi yang menggunakan kimia (pestisida). “Produk Lasingan memiliki rasa yang berbeda-beda, sesuai dengan karakteristik kopi di desanya. Itu merupakan salah satu cara Lasingan memberikan edukasi kepada konsumen,” tutupnya. (ron)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional