Pro-Kontra BDR, Disdik Kota Mataram Terus Lakukan Evaluasi

M. Taufik (Suara NTB/ron)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram terus mengevaluasi pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) di tengah pro dan kontra di masyarakat. Disdik berupaya menyiapkan strategi untuk mengatasi berbagai hambatan BDR.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Kota Mataram, M. Taufik ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 4 Agustus 2020 mengatakan, pro dan kontra di tengah masyarakat merupakan hal biasa. Namun, ia menegaskan, Pemerintah Kota Mataram dalam hal ini Disdik Kota Mataram memikirkan semua dampaknya dan terus mengevaluasi.

Iklan

“Mau bilang apa, karena kondisi seperti ini, masa mau dihentikan sekolah. Artinya yang mampu bisa lewat daring, yang tidak mampu lewat luring, yang lebih tidak mampu, ada jalan lain yang disiapkan,” ujar Taufik.

Hanya saja, ia menyesalkan jika kebijakan itu baru dilaksanakan tapi sudah mengeluh. Karena, menurutnya, masih banyak hal yang perlu dievaluasi dan tidak bisa serta merta mengakomodasi keinginan banyak pihak.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Drs. H. Lalu Fatwir Uzali, S.Pd., MM.,  menjelaskan,  pelaksanaan BDR dimulai Senin, 27 Juli 2020. Fatwir menegaskan, pada pelaksanaan BDR itu, siswa belum boleh masuk sekolah. “Kita tetap belajar daring, modul pembelajaran kami siapkan. Ada modulnya, untuk luring dan daring, mengatasi anak yang tidak punya sarana atau tidak punya kuota,” ujarnya.

Ia mengatakan, guru-guru menyiapkan modul. Modul yang disiapkan itu untuk memudahkan pelaksanaan BDR. Bahan dari modul itu yang akan diberikan secara daring kepada siswa, bisa melalui aplikasi pesan instan WhatsApp. Meski demikian, modul itu juga akan digunakan untuk BDR secara luring bagi siswa yang tidak memiliki sarana memadai dalam mengakses pembelajaran daring. “Sekarang teman-teman guru sedang membahas pemberian modul itu untuk luring,” katanya.

Terkait pemberian modul untuk BDR secara luring, Fatwir mengatakan sudah ada beberapa konsep yang bisa digunakan antara lain siswa bisa mengambil ke sekolah pada jam-jam tertentu sesuai jadwal yang diatur. Selain itu, orang tua siswa juga bisa mengambil modul dengan sistem layanan tanpa turun dari kendaraan atau drive thru. Atau guru mengantari ke rumah siswa yang dekat dengan sekolah. “Juga cara lainnya yang bisa digunakan untuk meminimalisasi kerumunan orang,” ujarnya. (ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here