Presiden Jokowi Perintahkan Pembangunan RTG Dipercepat

Presiden Jokowi didampingi Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah dan Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh melihat proses pembangunan RTG di Lingkungan Pengempel Kelurahan Bertais Kota Mataram, Jumat, 22 Maret 2019 siang. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan pembangunan rumah tahan gempa (RTG) dipercepat. Pasalnya, dana bantuan stimulan yang sudah ditransfer Pemerintah Pusat ke NTB sebesar Rp5,1 triliun lebih.

‘’Saya sering ke lapangan supaya betul-betul bisa melihat masalahnya dan ingin segera menyelesaikan. Tapi yang paling penting sudah sampai ke NTB sebesar Rp5,1 triliun. Artinya prosedur di sini yang perlu dipercepat. Sehingga bisa sampai ke penerima bantuan,’’ kata Presiden saat bertatap muka dengan 2.000 warga penerima bantuan dana stimulan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah rusak akibat gempa di Gedung Hakka Lombok, Jumat, 22 Maret 2019 siang.

Iklan

Dikatakan, progres pencairan dana bantuan stimulan  dari Februari hingga sekarang sudah kelihatan sangat meningkat. Baik pembagian buku tabungan maupun rekening yang sudah dibagi ke masyarakat. Dari 216 ribu lebih jumlah rumah yang rusak berat, sedang dan ringan akibat gempa pada Agustus 2018 lalu, sudah 160 ribu buku tabungan dibagi dan diisi.

Sekarang, kata Presiden tinggal pekerjaan lapangannya. Ia melihat memang ada perlambatan. Misalnya untuk pembangunan rumah instan sederhana sehat (Risha). Presiden juga mendapatkan laporan dari gubernur dan bupati/walikota mengenai kurangnya material bangunan seperti semen dan baja ringan.

Berkaitan dengan kurangnya suplai semen dan baja ringan, Presiden mengatakan langsung menelepon Menteri BUMN. Agar segera menyuplai semen dan baja ringan lebih banyak lagi  dari pabrik.

‘’Yang jelas sudah saya perintahkan harus lebih cepat dari sebelumnya. Yang paling penting, tabungan, uang itu sudah dipegang masyarakat,’’ ujarnya.

Presiden mengungkapkan, dana bantuan stimulan sebesar Rp5,1 triliun tersebut ditransfer selama dua tahap. Tahap pertama sebelum Desember 2018 lalu sebesar Rp3,5 triliun lebih. Kemudian tahap kedua pada minggu lalu senesar Rp1,6 triliun.

Dikatakan, prosedur pencairan dana bantuan stimulan tersebut sudah dipangkas. Dulunya sebanyak 17 tahap, sekarang hanya empat tahap. Presiden mengatakan dengan ditransfernya dana bantuan stimulan sebesar Rp5,1 triliun tersebut, ia ingin melihat pembangunan RTG secepatnya bisa diselesaikan.

‘’Saya ingin melihat pembangunan rumah ini secepatnya bisa kita selesaikan. Kemudian saya lihat antusiasme masyarakat untuk menggunakan rumah tahan gempa,’’ katanya.

Orang nomor satu di Indonesia ini mengatakan, kendala dalam percepatan pembangunan RTG di lapangan banyak sekali. Salah satunya soal ketersediaan bahan bangunan. Untuk percepatan pembangunan RTG, Presiden mengatakan akan dikerahkan masyarakat dan TNI untuk membantu masyarakat di NTB.

Presiden mengharapkan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi di NTB berjalan cepat. Sehingga masyarakat dapat hidup normal kembali. Hanya saja, Presiden mengingatkan agar rumah yang dibangun itu benar-benar tahan gempa. Sebab, NTB merupakan daerah rawan gempa atau ring of fire.

Kalau rumah tahan gempa ini bisa dibangun, kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini maka masyarakat dapat hidup menyatu dengan alam. Seperti Jepang yang sering dilanda gempa,  namun bisa hidup berdampingan dengan alam.

Jokowi menyebutkan, jumlah rumah yang dibangun kembali di NTB ini sekitar 216.000 rumah. Kemudian ditambah sekitar 4.000-an rumah yang rusak akibat gempa beruntun 5,4 dan 5,1 pada Minggu (17/3) lalu di Lombok Timur.

Menurutnya, jumlah yang  tidak sedikit. Meski sebagian masih dalam proses pembangunan, pemerintah akan terus berupaya menyelesaikannya. Karena, daerah yang dilanda gempa bumi ini tidak hanya di Lombok. Namun juga di daerah lain, Palu  Sulawesi Tengah, Lampung dan Banten.

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc  menyampaikan, terima kasih kepada Presiden yang kembali datang menyapa masyarakat NTB. Gubernur berharap kedatangan presiden kali ini dapat mempercepat proses pembangunan rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa.

‘’Kalau kita menuruti kata hati, ketika bencana bulan Agustus menyapa kita. Kita ingin rumah segera dibangun. Tapi pemerintah sudah punya pengalaman, bahwa bencana bisa datang kapan saja,’’ katanya.

Untuk itu, rumah yang dibangun masyarakat dengan dana bantuan stimulan pemerintah pusat adalah rumah tahan gempa. Sehingga, ketika gempa kembali mengguncang NTB, rumah yang ribangun tahan terhadap gempa. ’’Mudah-mudahan kehadiran Presiden kali ini akan mempercepat proses recovery,’’ harap Dr. Zul.

Berdasarkan data BPBD NTB, progres pembangunan hunian tetap (huntap) korban gempa sampai 20 Maret 2019, sebanyak 1.719 unit rumah sudah selesai dibangun. Sementara rumah yang dalam proses pembangunan sebanyak 15.051 unit. Secara keseluruhan, rumah yang selesai dan dalam proses pembangunan sebanyak 16.770 unit.

Rumah yang selesai dibangun tersebut dengan rincian, Risha 664 unit, Rika 300 unit, Riko 527 unit, dan individu/swasta 228 unit. Sedangkan Risha yang sedang dibangun 3.560 unit, Rika 2.909 unit, Riko 7.828 unit, RCI 40 unit, Risba 531 unit dan rumah yang dibangun individu/ swasta 183 unit. (nas)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional