Presiden Jokowi Direncanakan Resmikan Bendungan Tanju

Foto bersama di daerah hulu terowongan pertama sebelum bendungan Mila.

Dompu (Suara NTB) – Presiden RI, Joko Widodo dijadwalkan akan meresmikan dan melakukan acara pengisian awal (Impounding) Bendungan Tanju di akhir Januari dan April 2018 untuk Bendungan Mila. Dengan kapasitas tampung hingga 18,4 juta meter kubik untuk bendungan Tanju akan mengairi area irigasi baru seluas 2.350 ha dan meningkatkan intensitas tanam pada DI Rababaka seluas 1.689 ha dari bendungan Mila berkapasitas 6,1 juta meter kubik.

Kepala BWS NT 1, Ir. Asdin Julaidy, M.Sc pada acara peninjauan bendungan pengalih di Saneo bersama Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin dan TP4D Kejati NTB, Rabu, 10 Januari 2017, mengungkapkan, rencana Menteri PUPR, impounding bendungan Tanju akan dilakukan oleh Presiden sekaligus meresmikan sistem irigasi Rababaka kompleks (SIRK) di akhir Januari 2018 dan April 2018 bendungan Mila akan bisa diselesaikan. “Kalau bisa (pengisian awal air di bendungan) Januari, berarti bendungan kedua selama beliau menjabat sebagai Presiden,” kata Asdin.

Bendung fidel atau bendungan pengalih untuk sistem irigasi Rababaka Kompleks yang sudah rampung dibangun PT Nindya Karya selaku kontraktor dan sudah diserah terimakan tahap awal Desember 2017 lalu, menurut Asdin, berfungsi untuk mengisi air ke bendungan Tanju dan bendungan Mila. Kedua bendungan ini akan berfungsi di musim kemarau. Namun kontrak pekerjaannya berbeda – beda.

“Alhamdulillah untuk tahap pertama dengan dana Rp 348 M, Kami sudah selesaikan dan insyaallah sekarang kami sedang proses untuk tahap kedua,” jelasnya.

Untuk tahap kedua, dikatakan Asdin, dilakukan untuk kegiatan saluran dan 1 terowongan yang belum diselesaikan yang masuk diprogram kedua. “Saluran ini panjangnya 18 KM sampai ke Tanju, lebarnya 2,75 M,” ungkapnya. Tapi pada program pertama juga terdapat 2 terowongan yaitu sepanjang 650 meter dan 1,8 KM dengan lebar terowongan 3 M dengan sirkulasi udara yang bagus.

Selain melakukan peninjauan hasil pembangunan bendungan pengalih, juga dilakukan penanaman pohon untuk penghijauan di daerah sekitat bendungan, Rabu kemarin.

Asdin juga mengungkapkan suka duka membangun SIRK di Kabupaten Dompu yang banyak hambatan sosialnya. Semua masalah sosial sudah diselesaikan, terutama pembebasan lahan warga sudah dibayarkan dan didukung pemerintah daerah (Pemda). “Mudah – mudahan kedepan tidak ada hambatan berarti,” harapnya.

Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin pada kesempatan yang sama, menyampaikan pengalamannya dalam pengurusan izin pinjam pakai kawasan hutan untuk mega proyek Rababaka Kompleks yang membutuhkan waktu hingga 6 tahun lamanya. Karena proses itu dimulainya sejak awal dirinya menjabat sebagai Bupati Dompu di periode pertama tahun 2010 dan baru rampung 4 bulan setelah menjabat Bupati periode kedua.

Bupati Dompu bersama jajaran di bendungan Tanju Kecamatan Manggelewa.

“Tapi tantangan itu bisa kita lewati, bisa kita selesaikan dan sekarang bisa mulai membayangkan hasil dan manfaatnya untuk masyarakat Kabupaten Dompu. Masalah sosial yang sering terjadi dalam pembangunan proyek ini, memang secara sosial orang di sekitar lokasi proyek tidak mengambil manfaat secara langsung. Tapi orang yang jarak 30 – 40 km dari sini yang mengambil manfaatnya. Sama dengan yang di Tanju, tidak bisa memanfaatkannya. Karena area pertaniannya lebih tinggi, sehingga memicu protes. Kadang hal seperti ini yang menimbulkan protes,” cerita H. Bambang.

Ia pun mengungkapkan, membangun mega proyek bendungan dibayangkan hanya terjadi di era penjajahan. Tapi saat ini justru bisa dilakukan dan ini terlihat hasilnya dari mega proyek Rababaka Kompleks. Apalagi sampai membuat terowongan untuk memindahkan air dari sumber sungai Rababaka ke sungai Mila dan Tanju.

“Insyaallah dengan kebersamaan ini, kualitas pekerjaan akan bisa menjadi kebanggaan kita selama – lamanya,” harapnya. Terlebih, dengan keterlibatan TP4D sejak awal proses pembangunan mega proyek.

Bupati Dompu bersama jajaran di bendungan Tanju Kecamatan Manggelewa.

Bupati yang dikenal dengan profesor jagung ini juga mengungkapkan, dengan dibangunnya mega proyek Rababaka kompleks akan menjadi para pihak yang terlibat sebagai pahlawan pangan bagi Dompu, NTB dan bahkan bagi Indonesia. Sebelum didukung bendungan Rababaka komples, gerakan menanam jagung di Dompu berhasil mendorong presiden Joko Widodo menetapkan Harga pembelian pemerintah (HPP) jagung dari Dompu dan menghentikan import jagung.

“Dengan bendungan ini, di Manggelewa yang dulunya menanam jagung sekali setahun, mungkin akan bisa 3 kali setahun untuk beberapa tahun kedepan. Artinya, kontribusi kita untuk Indonesia makin besar,” katanya.

Begitu juga dengan perusahaan pabrik pakan ternak yang hendak dibangun di Dompu tidak akan ragu lagi setelah adanya dukungan air bersih dari keberadaan SIRK. “Sekarang sudah ada dam tanju, ada dam Mila. Insyaallah suplai airnya akan semakin bagus,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, proyek SIRK juga akan mengubah image Dompu daerah kering. Karena air akan tersedia sepanjang tahun dan kedepan penggunaan teknologi tepat guna yang akan dipikirkan untuk memaksimalkan potensi yang ada. “Saya membayangkan warga bisa memasang mesin di sepanjang jalan dan dipasang sprinker jadi hujan buatan. Jadi orang – orang itu bisa nanam jagung 2 kali setahun,” harapnya.

Mega proyek Rababaka komplek ini sejak awal sudah didampingi TP4D dari Kejati NTB yang selalu intens mengawasi pelaksanaan proyek. Bahkan secara rutin turun ke lapangan untuk mengantisipasi adanya masalah sebagai bentuk pencegahan. Terlebih mega proyek Rabaka kompleks ini merupakan salahs atu proyek strategis nasional di NTB.

“Kita selalu ingatkan. Kita cerewet. Agar jangan sampai main – main, karena proyek ini proyek strategis nasional. Sehingga pelaksanaannya aman dan lancar,” kata Ketua TP4D Kejati NTB, Sucipto, SH, MH, yang didampingi Wakil Ketua TP4D Kejari NTB, Eri Ariansyah Harahap, SH, MH, Sekretaris TP4D Kejati NTB, Eli Rahmawati, SH, MH bersama tim lainnya di lokasi bendungan pembagi.

Mega proyek Rababaka kompleks sendiri dilaksanakan untuk mengalihkan potensi air yang selama ini terbuang ke laut hingga 40 juta meter kubik per tahun sisa pemanfaatan daerah irigasi (DI) Rababaka eksisting seluas 1.689 ha. Sementara di sebelah kanan sungai Rababaka terdapat sungai Tanju dan sungai Mila yang memiliki aliran kecil, namun areal  irigasi relatif luas areal lebih dari 2.350 ha dan kerap kekurangan air pada musim kemarau.

Untuk mengatasi itu, Kementerian PUPR melalui BWS NT 1 melakukan pengelolaan ketiga sungai tersebut dalam satu sistem yakni Sistem Irigasi Rababaka Kompleks (SIRK). Sistem ini untuk menangkap dan mengalirkan air dari sungai Rababaka sebesar 3,2 meter kubik per detik dengan membagi kapasitas air melalui saluran interbasin ke sungai Mila untuk mengisi tampungan bendungan Mila sebesar 1,3 meter kubik per detik dan sebagiannya dialirkan ke sungai Tanju sebesar 1,9 meter kubik per detik yang ditampung di bendungan Tanju.

Kapasitas tampung bendungan Tanju hingga 18,4 juta meter kubik yang akan mengairi area irigasi baru seluas 2.350 hektar dan sumber air baku 50 liter per detik untuk sekitar 4.000 ribu sambungan rumah (SR). Bendungan Mila berkapasitas 6,1 juta meter kubik yang akan dimanfaatkan untuk meningkatkan intensitas tanam khususnya musim tanam III pada DI Rababaka seluas 1.689 hektar.

Disamping bendungan, juga dibangun bendung Pengalih, saluran interbasin sepanjang 17 km dan bangunan pembagi aliran air ke masing-masing bendungan. Terdapat 2 terowongan yang dibangun yakni terowongan I berada sebelum bendungan Mila sepanjang 650 M. Terowongan II dibangun sebelum bendungan Tanju sepanjang 1,7 KM dengan diameter keduanya 3 M. Untuk terowongan I saat ini sudah berhasil tembus namun untuk perkuatan dindingnya dengan pembetonan yang akan dilakukan pada 2018 ini bersamaan dengan konstruksi terowongan II. (ula/*)