Pramuwisata Minta Soal ’’Fee Guide’’ Ditertibkan

Sofian Azhari. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB)Fee guide di NTB dianggap masih tinggi bahkan kerap kali dikeluhkan. Pelaku pramuwisata menolak disebut itu karena permainan mereka. Fee guide dari artshop disebut-sebut mencapai angka 50 persen. Fee ini didapat oleh para pramuwisata yang bekerjasama dengan pengusaha art shop tertentu yang dibawakan tamu (wisatawan) saat mengantar rombongan wisatawan berbelanja ke art shop tertentu.

Wakil Ketua Pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Mataram, Sofian Azhari yang juga seorang pramuwisata kepada Suara NTB mengatakan, para pramuwisata dalam melaksanakan kegiataan kepariwisataan tidak pernah meminta guide fee yang sangat tinggi, apalagi mencapai 50 persen. Persoalan fee guide ini adalah persoalan krusial. Beberapa kali antara pramuwisata dan pengusaha art shop dipertemukan, tidak juga pernah ada titik temunya. “Tidak pernah ketemu persoalannya, walaupun pernah kita dipertemukan,” katanya.

Iklan

Sofian menegaskan, pramuwisata tidak meminta fee kepada art shop. Yang terjadi, art shop yang menyediakan fee kepada pramuwisata yang membantu art shop memasarkan produk. Sofian menyampaikan, kemungkinan yang terjadi adalah spekulasi art shop yang memberikan fee besar kepada guide yang datang membawa rombongan wisatawan berbelanja.

“Kadang si oknum pramuwisata menyampaikan kepada teman-teman. Kalau bawa tamu ke art shop di sana, lebih banyak kita dikasi. Padahal kemungkinan, si pemilik tempat (art shop) sendiri yang memberikan lebih karena merasa tamunya belanja,” jelas Sofian. Akibatnya, pramuwisata yang mendapatkan cerita-cerita seperti itu akhirnya tergiur untuk menggiring tamu-tamu yang didampinginya berwisata, agar berbelanja ke art shop yang dianggap menjanjikan fee lebih besar.

Padahal organisasi resmi pramuwisata (HPI) jelas batasan-batasannya. Tidak diperkenankan pramuwisata anggota HPI meminta fee, apalagi fee besar. Sebab tidak boleh ditentukan besaran fee yang harus didapat oleh guide dalam kerja-kerja guidingnya. “Menentukan fee, apalagi besar, jelas-jelas melanggar kode etik. Oknum pengusaha art shopnya sebenarnya memberikan bonus besar dengan harapan akan dibawakan lagi wisatawan yang berbelanja. Sebenarnya sistim ini tidak bagus. Sebab kita sendiri sudah ada budget dari paket perjalanan wisatanya, sudah ada feenya,” kata Sofian.

Wisatawan banyak yang cerdas, lanjut Sofian. Mereka sudah mengetahui harga jual barang. Sehingga ketika harga barang di art shop dinggap cukup tinggi, apalagi diketahui sebab harga tinggi adalah kenaikan harga yang dilakukan oleh pemilik art shop agar dapat memberi fee lebih besar kepada pramuwisata, tentu akan menjadi polemik bagi wisatawan dan dunia wisata.

Untuk itu, solusi yang ditawarkan seperti halnya yang dilakukan di Bali. Masing-masing perwakilan dipertemukan. Dari asosiasi pramuwisata, dan art shop. Kemudian disepakati masing-masing jalan keluarnya. Sehingga tidak terkesan kegiatan wisata yang dilaksanakan terkesan sebagai pemerasan kepada tamu (wisatawan). Sofian mengatakan, persoalan fee guide ini harusnya sudah lama dituntaskan. Karena menjadi citra yang tidak baik bagi dunia pariwisata lokal. (bul)

Advertisementfiling laporan pajak filing laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional