PPKM Level III, Pelaku Wisata Khawatir

Ketut M Jaya Kusuma, Munawir Haris. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Para pengusaha hotel dan hiburan di Lombok Barat (Lobar), terutama sekali di Senggigi mulai risau dengan wacana akan diberlakukannya penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level III secara nasional. Dengan kondisi yang mulai membaik setelah event World Superbike (WSBK), kini mereka khawatir dan pasrah bila pembatasan akan kembali diberlakukan.

“Memang sih diberlakukannya PPKM level III ini pasti berpengaruh, cuma kan kita mengingat ini diberlakukan untuk sesuatu yang lebih besar,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan (APH) Senggigi, Suhermanto, Kamis, 2 Desember 2021. Menurutnya, para pengusaha harus memahami kebijakan pembatasan itu perlu dilakukan. Untuk dapat mengantisipasi terjadinya gelombang ketiga Covid-19, terutama saat musim liburan tahun baru.

Iklan

Dikatakan, itu merupakan momen high season yang paling ditunggu untuk wisatawan biasanya datang berlibur. “Jadi mungkin pemerintah melakukan itu untuk antisipasi. Ya kalau disuruh memilih, jelas tidak bisa memilih kita (para pengusaha),” katanya.

“Saya kira memang itu satu-satunya jalan yang terbaik (menerima kebijakan), kita sama-sama prihatin. Tapi pasti pemerintah juga memikirkan kita para pengusaha ini,” ungkapnya. Ia berharap, adanya kebijakan yang menyesuaikan dengan aktivitas para pengusaha hiburan. Mengingat saat ini para wisatawan lokal pun sudah terbiasa untuk menjalankan aktivitas hiburan dan wisata dengan menerapkan protokol kesehatan (Prokes) dengan taat.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya kan jam 24.00 Wita itu sudah tidak ada lagi kegiatan dan sudah tutup semua kita,” bebernya. Terlebih, dirinya mengaku bahwa tempat hiburan malam di Senggigi justru tidak merasakan dampak yang signifikan saat WSBK kemarin.

“Kalau dampak sih belum, karena pada saat WSBK kita malah sepi. Mungkin karena orang-orang siangnya capek, jadi malamnya istirahat,” tutur pria berambut gondrong ini. Namun, ia pun mengaku optimis dan memotovasi para pengusaha hiburan lainnya agar jangan putus asa, karena masih ada hari-hari lainnya ke depan untuk tetap bertahan dan berinovasi mengembangkan bisnis hiburan.

‘’Saya yakin kok, bukan hari ini kita dapatkan bisnis itu. Tapi masih ada hari-hari yang lain,” ucapnya. Karena bila wisatawan sudah merasa terksesan dengan Lombok. Ia percaya, bahwa suatu saat nanti mereka pasti akan kembali lagi mengunjungi Lombok.

Hal senada diungkapkan oleh ketua Senggigi Hotel Association (SHA), Ketut M Jaya Kusuma, bahwa para pengusaha hotel yang ada di Senggigi mencoba memahami kebijakan tersebut. Untuk mengantisipasi masuknya varian baru Covid-19 yang sudah mulai tersebar di beberapa negara. “Yang dikhawatrikan juga kalau mobilitas saat libur Nataru ini tidak terkontrol, ini bisa memperparah keadaan juga nanti,” ujar Ketut.

Namun, pihaknya berharap agar stay cation untuk wisatawan lokal seperti dari kota Mataram dan sekitarnya untuk hotel-hotel yang ada di Senggigi tetap bisa berjalan. Tanpa pembatasan yang berpotensi mematikan geliat pariwisata. “Kita setuju dengan pengetatan wisatawan yang dari luar ke sini, tapi yang domestik ini kan sudah cukup bisa dikendalikan,” bebernya.

Sehingga adanya PPKM level III yang akan diberlalukan ini diharapkan dapat menekan dan mengantidipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena bila varian baru yang disinyalir dapat menyebabkan dampak yang lebih parah. Itu juga dikhawatirkan akan membuat proses recovery yang lebih lama untuk pariwisata. Sementara, pada bulan Maret tahun depan nanti, event MotoGP sudah akan diselenggarakan. “Jangan sampai nanti kasus Covid-19 ini meledaknya malah di situ, kan jadi susah juga nanti. Jadi lebih baik antisipasinya sekarang, tapi nanti bisa saat event besar itu kita terkendali,” imbuh Ketut yang juga General Manajer di Holiday Resort Senggigi ini.

Untuk hotel di wilayah Senggigi, pada bulan Desember ini diperkirakan bookingannya akan mencapai sekitar 45 persen. Padahal jika tidak ada pemberlakukan PPKM level III, angka itu diprediksikan bisa mencapai hingga 50 persen lebih.

Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRD Lobar, Munawir Haris mengaku pihaknya belum mengetahui bagaimana teknis pelaksanaan PPKM level III pada libur Nataru nanti. “Ini kan kebijakan pusat, pasti daerah juga akan meneruskannya. Tapi bagaimana teknisnya nanti apakah ada jam malam, atau pembatasan kuota lokasi, kita belum tahu,” ujarnya. Namun, yang pastinya kata dia, Komisi II DPRD Lobar yang membidangi pariwisata, akan mencoba berkoordinasi dengan pihak terkait, mulai dari asosiasi para pelaku pariwisata hingga pihak kepolisian. Untuk membahas lebih lanjut bagaimana petunjuk teknis terkait pemberlakukan PPKM level III tersebut. (her)

Advertisement