PPKM di Mataram Dilonggarkan

Sekelompok pelanggan menikmati makanan di salah satu warung bakso di Jalan WR Supratman, Jumat, 23 Juli 2021. Saat ini pemerintah pusat memberikan relaksasi aturan selama PPKM, di mana pemilik usaha dibolehkan buka hingga pukul 21.00 Wita dan boleh melayani makan di tempat dengan prokes ketat.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram menyambut positif rencana pemerintah pusat untuk memberikan relaksasi aturan pada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang diberlakukan saat ini. Dengan pelonggaran tersebut, usaha-usaha masyarakat diharapkan dapat bangkit kembali dengan beberapa penyesuaian.

“Kita memang belum terima surat edarannya, tapi sepertinya da gambaran PPKM kita ini ada relaksasinya. Antara lain pedagang dan toko kelontong, termasuk pencucian motor, barbershop dan lain-lain itu boleh beroperasi sampai pukul sembilan malam,” ujar Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, Jumat, 23 Juli 2021.

Iklan

Di sisi lain, pelonggaran aturan juga diberikan bagi pemilik usaha restoran, rumah makan dan warung yang diizinkan melayani makan di tempat. “Ini sekarang boleh, sampai jam sembilan malam itu. Sampai jam sepuluh malam baru dia harus take away,” jelasnya.

Menyikapi arahan pemerintah pusat itu Satgas Covid-19 Kota Mataram juga menyiapkan skema pembatasan di unit-unit usaha esensial seperti rumah makan dan lainnya. Antara lain dengan meminta seluruh Camat dan Lurah untuk bekerjasama dengan asosiasi pengusaha untuk menempelkan spanduk berisi imbauan dan aturan protokol kesehatan.

“Terutama yang berbasis 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas), dan ini masyarakat juga harus tertib. Semisal kita instruksikan sampai jam sembilan malam, maka di atas itu tidak ada lagi yang melayani atau ingin makan di tempat,” ujar Mohan.

Menurutnya pelonggaran yang diberikan pemerintah pusat tidak semata-mata dimaknai aktivitas masyarakat bisa normal tanpa mematuhi protokol kesehatan. Melainkan pengawasan tetap dilakukan oleh tim Satgas Covid-19 dengan beberapa pengecualian dari aturan-aturan pembatasan sebelumnya.

“Karena itu, penyekatan juga tidak kita kurangi. Walaupun begitu, kita tidak lagi misalnya melakukan swab di tempat. Hanya memastikan protokol kesehatan itu diikuti, dan ini butuh kesadaran bersama,” jelasnya.

Salah seorang pedagang di Mataram, Dedi mengakui penerapan PPKM memang membatasi gerak pelaku usaha seperti dirinya. Dicontohkan seperti jumlah produksi bakso yang dijajakannya setiap hari berkurang hingga 50 persen.

“Sekarang per hari mungkin cuma habis 10 kilogram, yang sebelumnya bisa 20 kilogram. Sejak PPKM ini pelanggan memang berkurang juga,” ujar pedagang bakso yang sehari-hari membuka usaha di Jalan Jalan WR. Supratman tersebut.

Diceritakan Dedi dirinya juga sempat terjaring patroli gabungan karena dianggap melanggar aturan PPKM. “Waktu itu kita buka lebih dari jam delapan malam. Lebih sekitar 10 menit, kita kena tegur petugas,” jelasnya.

Untuk itu, dirinya bersyukur pembatasan yang diberlakukan mendapatkan relaksasi. Dengan begitu, usaha yang digelutinya diharapkan dapat meningkat, baik dari segi pelanggan maupun pendapatan harian.

“Sebenarnya kalau kondisinya begini kami lebih baik pulang ke Jawa. Cuma mau pulang juga sulit, banyak syaratnya. Jadi lebih baik (bertahan) di sini tetap buka usaha, walaupun banyak pembatasannya. Untuk saja sekarang bisa lebih ringan (aturannya),” tandas Dedi. (bay)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional