Potret Kemiskinan di Dompu, Warga Pelita Tinggal di Pondok Reot

Dompu (Suara NTB) – Mansyur (65), warga Lingkungan Pelita Keluarahan Bada Kecamatan Dompu sudah enam tahun menetap di sebuah pondok reot. Jeratan ekonomi yang melanda, memaksanya menumpang pondok di salah satu kebun milik salah seorang warga Lingkungan Pelita. Di pondok berukuran 2×3 meter itu, ia tinggal bersama empat orang anggota keluarganya.

Istrinya, Aisah (60), sibuk menjajakan makanan kecil untuk para petani saat musim panen tiba. Cucunya, Muhamad (12) yang sudah diasuh sejak balita karena ditinggal cerai kedua orang tuanya. Sang bocah harus putus sekolah karena memilih menjual belut keliling untuk menambah penghasilan neneknya. Sementara Ainun (6) dan Junaidi tak menentu aktivitasnya. “Kalau saya jadi buruh tani biasa. Kalau dipanggil pergi merontok gabah padi, ya saya ikut. Kalau tidak, ya kerja serabutan,” kata Mansyur saat ditemui Suara NTB di kediamanya, Jumat, 16 Desember 2016.

Iklan

Sebelumnya kata Mansyur, ia memiliki rumah di Desa Kareke Kecamatan Dompu. Hanya saja, kerena persoalan keluarga, rumah tersebut dijual sang anak untuk menutupi hutang. Sebagai kepala keluarga, ia harus tetap berusaha mencari jalan keluar agar tetap memiliki tempat tinggal. Beruntung salah seorang kerabat lama bersedia meminjamkan sebidang tanah kebun untuk ia garap sekaligus membangun pondok tempat ia tinggal saat ini. “Ini tanah orang. Saya hanya disuruh membantu menggarap kebunnya saja,” ujarnya.

Disinggung soal bantuan yang telah diterima selama ini, baik Program Keluarga Harapan (PKH), bedah rumah dan jenis bantuan sosial lainya, Mansyur mengaku minim menerima bantuan. Yang rutin ia terima yakni bantuan Beras Miskin (Raskin), itupun ia dituntut menggeluarkan biaya Rp 17 per bulan.

Sementara untuk program bedah rumah tambah dia, pondok reotnya hampir tiap tahun didata dan difoto aparatur Kelurahan dan pemerintah Daerah, sayangnya data rumahnya dimanfaatkan untuk membantu warga lainya. “Sudah difoto dan disaksikan juga oleh Bupati, tapi setelah bantuannya turun dialihkan ke rumah warga Dusun Pandai. Ya sabar saja, kalau ndak dapat ndak apa-apan. Karena tidak mungkin kita mau marah-marah ke pemerintah karena tidak mendapat bantuan,” ungkapnya.

  Integrasi Program Diharapkan Efektif Atasi Kemiskinan

Kalau saya bisa mengusulkan kata dia, jika pemerintah masih memiliki anggaran untuk membantu keluaraga miskin terlebih keluarganya, setidaknya ia meminta agar dibangukan rumah tetap di lahan pribadi yang dimiliki di Desa Kareke. Pondok yang ditempati saat ini sering terendam banjir ketika musim hujan, karena posisinya tepat berada di bantaran sungai laju. “Meskipun rumah kecil dari kayu juga tidak apa-apa, yang penting ada rumah tetap. Hasil tabungan kerja serabutan selama ini juga alhamdulillah saya bisa sedikit-sedikit bangun dasar rumah, cuma untuk kelanjutan belum tau sampai kapan,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here