Potret Kemiskinan di Dompu, Warga Mbawi Tinggal di MCK

Dompu (Suara NTB) – Ridwan (65), warga Dusun Mbawi, kini tinggal bermukim di salah ruang bangunan MCK. Hal itu dilakukannya setelah rumah reot yang dibangunnya 30 tahun lalu tak lagi mampu membendung derasnya air hujan. Pindah rumah ketika musim penghujan telah menjadi rutinitasnya tiap tahun.

Bangunan tua berukuran 3 x 2 meter itu nampak seperti sebuah kandang ternak. Dan sayangnya, hingga saat ini tak ada bantuan yang datang. Petugas survei dari provinsi maupun daerah seperti tak begitu peduli. Gambar rumah dan identitas Ridwan hanya jadi pelengkap data jumlah penduduk miskin penerima bantuan.

Iklan

“Sudah puluhan kali rumah saya difoto, tapi sampai hari ini tidak ada perubahan apa-apa,” ungkap Ridwan kepada Suara NTB saat ditemui di pondok barunya, MCK umum itu, Minggu, 6 November 2016.

Untuk menunjang kebutuhan hidupnya, Ridwan harus mencari kayu bakar tiap harinya. Satu ikat kayu bakar dijualnya dengan harga Rp 5.000. Dalam sehari tenaganya hanya mampu mengumpulkan tiga ikat kayu bakar. Dipastikan penghasilan per hari Rp 15.000, dan itupun tergantung warga sekitar membelinya atau tidak untuk kebutuhan kayu bakar. Jika tidak, profesi lain yang dilakukannya yakni menjadi buruh tukang batu.

“Kalau sepi pembeli kayu, ya jadi buruh, gajinya Rp 75.000,” ujarnya.

Diakui, usianya yang sudah renta itu tak lagi ideal menjadi buruh bangunan. Hanya saja jeratan ekonomi dan kebutuhan hidup yang mendesak memaksanya untuk tetap bertahan menjalani aktivitasnya. Dari jumlah bantuan yang digelontorkan pemerintah untuk membantu masyarakat miskin di Bumi Nggahi Rawi Pahu, hanya satu jenis bantuan yang ia peroleh, yakni bantuan Beras Miskin (Raskin).

Sedangkan bantuan bedah rumah kumuh, PKH dan bantuan sosial lainya tak pernah diberikan pemerintah. Aparatur Desa dan tim survei yang datang mengunjunginya hampir tiap tahun, tak juga berhasil mengubah kehidupannya.

  Dampak Gempa Jumlah Penduduk Miskin KLU Bertambah

Hal itu pula yang disesalkan Kepala Dusun Mbawi, Arifuddin. Katanya, puluhan data rumah keluarga miskin yang disurvei petugas terkait, hanya lima rumah yang bisa direalisasikan. Di mana kondisi rumah yang renovasi itu tak begitu parah jika dibandingkan rumah Ridwan. “Saya sudah prioritaskan Ridwan harus diutamakan dapat program bedah rumah, tapi saya juga tidak tahu mengapa sampai hari belum juga disentuh,” katanya.

Selain rumah Ridwan, masih banyak rumah reot lainya yang belum tersentuh pemerintah. Kondisi ini bukan hanya disesalkan pihaknya, terlebih semua masyarakat di dusunya itu juga ikut mempertanyakan, mengapa pemerintah seperti menutup mata melihat persoalan ini.  Karena akan terkesan percuma ketika pengentasan kemiskinan yang kita gaungkan, tak seirama dengan langkah yang kita ambil di tengah masyarakat.

“Pemerintah harusnya bisa segera melihat kondisi Ridwan yang kini tinggal di MCK, dan sejujurnya saya malu untuk menemani orang yang ingin mengambil gambar rumah mereka, termasuk wartawan, karena ujung-ujungnya takkan ada hasil apa-apa,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here