Potensi Zakat di NTB Mencapai Rp1 Triliun

KH. Muh. Said Gazali. (Suara NTB/bul)

Mataram (Suara NTB) – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memproyeksikan potenzi sakat di NTB mencapai Rp1 triliunan. Jika seluruhnya dapat dikelola, akan signifikan menurunkan angka kemiskinan. Ketua Baznas Provinsi NTB, Dr. KH. Muh. Said Gazali, LC, MA  mengatakan, potensi sebesar ini termasuk menghitung zakat para petani, nelayan, peternak dan seluruh pelaku ekonomi di NTB.

Dari potensi zakat sebesar itu, penerimaannya masih sangat kecil. Tahun ini hanya mendekati Rp37 miliar. “Yang bisa ditarik zakatnya sebesar Rp100 miliar dari Rp1 triliunan potensi zakat ini,” katanya kepada Suara NTB. Muh. Said Gazali, pengambilan sebagian harta yang harus dikeluarkan oleh muzakki zakat. Besarannya 2,5 persen dari pendapatan. Sasarannya adalah sasaran kepada Fakir, Miskin, Amil, Mu’allaf, Riqab/Memerdekakan Budak, Gharim (Orang yang Memiliki Hutang), Fi Sabilillah dan Ibnu Sabil.

Seluruh zakat yang diterima oleh Baznas, setiap tahun harus didistribusikan habis. Kepada yang berhak menerimanya. Penyaluran zakat juga dilakukan dengan skema mendukung produktifitas usaha masyarakat agar tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan konsumtif. “Misalnya, memberikan kepada masyarakat pesisir untuk modal usaha. Dan kewajibannya adalah menabung, sebagian dari tabungan bisa diberikan ke Baznas untuk diberikan lagi kepada kelompok masyarakat lainnya yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain itu, zakat disalurkan ke desa-desa. Satu desa diberikan jatah 300 orang. Satu orang, diberi sebesar Rp300 ribu. Zakat yang didistribusikan selama ini dianggap sangat bermanfaat bagi para penerimanya. Terutama untuk menekan angka kemiskinan. Selama ini, penerimaan zakat masih didominasi oleh ASN. Baznas saat ini tengah menggarap potensi zakat dari TNI-Polri. Selain dari perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi vertikal lainnya.

Minimnya penerimaan zakat dari potensi zakat yang ada di NTB, lanjut Said Gazali, dikarenakan cara berfikir masyarakat yang masih mengganggap pemberian langsungnya kepada orang lain adalah zakat. Seharusnya, zakat disalurkan melalui lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelolanya. Agar tepat sasaran. Dan terkelola dengan baik. “Kami terus mensosialisasikan.Mengajak masyarakat untuk pengelolaan zakat dilakukan satu pintu agar penyalurannya lebih tepat sasaran,” demikian Said Gazali. (bul)