Potensi Pariwisata Jelang Pergantian Tahun, Pelaku Usaha Siapkan Paket Murah

Dewantoro Umbu Joka (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Peningkatan kunjungan wisatawan ke NTB diproyeksikan dapat tercapai 2021 mendatang. Untuk mendukung hal tersebut, libur natal dan tahun baru 2020 mendatang menjadi momen penentu untuk memulai geliat pariwisata.

Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) NTB, Dewantoro Umbu Joka, menerangkan saat ini destinasi wisata di NTB secara umum telah mulai dikunjungi. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, pihaknya telah menyusun paket hemat yang dimulai sejak 7 Desember lalu hingga Juni 2021 mendatng.

‘’Asita NTB sudah buat paket hemat. Kita tidak ambil untung, paling tidak tamu datang ke Lombok selama 3 hari 2 malam dengan harga Rp 900 ribu, dan itu diluar tiket pesawat,’’ ujar Dewantoro, Kamis, 17 Desember 2020.

Menurutnya, paket hemat saat ini menjadi salah satu kunci untuk menarik wisatawan. Mengingat promosi serupa tidak hanya dilakukan di NTB, melainkan di seluruh daerah wisata di Indonesia.

Di sisi lain, paket hemat yang dibuat diproyeksikan dapat mendukung jug apergerakan pelaku industri pariwisata lainnya seperti hotel, restoran, dan lain-lain. “Jadi kita kerjasama dengan hotel di mana akan kasi harga murah, restoran juga kasi harga murah. Walaupun murah tidak mengurangi kualitas paketnya. Asita sudah buat promo harga yang hotel bintang 4 dan 3 yang super murah untuk merangsang wisatawan,” ujar Dewantoro.

Paket hemat sendiri menyasar daerah-daerah wisata strategis di NTB seperti Tiga Gili di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Mandalika di Kabupaten Lombok Tenggah (Loteng), Senggigi di Kabupaten Lombok Barat (Lobar), dan Kota Mataram sebagai ibu kota provinsi.

“Hotel-hotel itu kita libatkan. Untuk di kota Mataram ada 5 hote dan Senggigi 5 hotel juga, sasarannya untuk wisatawan domestik dari Makassar, Jakarta, dan Jawa. Intinya paling tidak ada orang datang ke sini,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, menerangkan tingkat okupansi hotel di NTB secara umum telah meningkat menjelang akhir tahun. Berdasarkan catatan pihaknya, untuk okupansi hotel di Lobar dan Mataram mencapai 50-60 persen.

“Loteng dan KLU ini yang kalau kita mengukur semenjak ada pandemi covid, memang terjun sekali. Dari titik nol itu, sekarang sudah bisa naik 20-30 persen,” ujar Wolini, Kamis 17 Desember 2020. Untuk menyusun strategi menyambut 2021, pihaknya pada 21 Desember mendatang akan melaksanakan rapat kerja daerah (rakerda) bersama seluruh hotel dan restoran yang ada.

“Kita akan samakan persepsi dulu dalam rakerda itu, bersama pemerintah daerah juga. Bagaimana kita memajukan pariwisata harus bersinergi, karena hampir semua kita sudah siap khususnya untuk penerapan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment) di unti usaha,” jelasnya. Diterangkan, hal tersebut sangat dibutuhkan kedepan. Terutama untuk memaksimalkan potensi pariwisata NTB pascapandemi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar NTB), H Lalu Moh Faozal menerangkan untuk menyambut 2021 pihaknya akan memaksimalkan potensi yang dibawa gelaran MotoGP 2021 di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. “Kita perlu siapkan industri hotel dan restoran kita menghadapi perubahan paradigma pariwisata untuk standarisasi CHSE, dan memperjelas kebutuhan dari pelaksana event MotoGP sendiri,” ujarnya, Kamis, 17 Desember 2020.

Untuk itu, pihaknya sampai akhir tahun mendatang akan mengejar sinergi dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan pariwisata, terutama maskapai penerbangan. Hal tersebut dibutuhkan untuk memaksimalkan akses masuk wisatawan menuju NTB, baik dari pasar domestik maupun mancanegara.

“Kalau soal target sampai akhir tahun kita belum berani banyak bicara, karena memang belum normal. Misalnya Bali saja tutup (pengetatan syarat masuk, Red), sukur-sukur kalau kita dapat wisatawan yang tidak bisa masuk ke sana. Sekarang fokus kita mengejar potensi-potensi yang 2021 ini,” tandas Faozal.  (bay)