Potensi Kredit Terdampak Covid-19 di NTB Mencapai Rp4,3 Triliun

Farid Faletehan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan rekapitulasi potensi kredit yang terdampak Covid-19 dari sejumlah lembaga keuangan. Angka sementaranya mencapai Rp4,3 triliun lebih.

‘’Data yang masuk adalah data dari masing-masing LJK (Lemabag Jasa Keuangan ) atau kelompok LJK sampai dengan tanggal 16 April 2020,’’ ujar Kepala OJK Provinsi NTB, Farid Faletehan.

Iklan

Berdasarkan analisa yang dilakukan oleh lembaga keuangan terhadap nasabahnya, potensi kredit yang terdampak Corona totalnya Rp4.339.262.318.955. Dengan jumlah rekening mencapai 152.561. Terdiri dari, Bank Umum dan Bank Umum Syariah (BUS) senilai Rp2.953.287.787.408 (34.973 rekening).

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah senilai Rp465.802.152.915 (16.867 rekening). Perusahaan pembiayaan (finance) senilai Rp357.599.590.110 (16.121 rekening). Perusahaan Pegadaian Rp531.526.629.122 (31.911 rekening). Permodalan Nasional Madani (PNM) Rp91.046.159.400 (52.689 rekening).

‘’Dari 33 bank, 26 bank sudah melaporkan potensi kreditnya yang terdampak Corona. Sisanya kita masih tunggu. Potensinya tentu bertambah,’’ sebut Farid.

Sejak wabah Corona mewabah ke Indonesia. Pemerintah mengeluarkan kebijakan keringanan kredit kepada nasabah lembaga keuangan. Otoritas juga mengeluarkan peraturan terkait hal tersebut kepada lembaga keuangan dan nasabah. terutama nasabah lembaga keuangan yang bekerja pada sektor-sektor yang terdampak langsung corona. Misalnya sektor pariwisata dan turunannya.

Farid mengatakan, seluruh lembaga keuangan kemudian memverifikasi potensi nasabahnya yang langsung terdampak. Sehingga ditemukan nilai sementara seperti yang dipaparkan di atas. Kepada nasabah-nasabah yang terdampak langsung Corona, tentu mendapat hak keringanan dari lembaga keuangan. Apakah penundaan penyetoran sampai selama setahun, keringanan cicilan pokok atau bunga kredit.

‘’Atau tergantung hasil analisa bank.  Nanti bank yang menentukan nasabah diberikan keringanan apa,’’ ujarnya.

Dari potensi kredit terdampak ini, belum seluruhnya nasabah mengajukan keringanan ke bank. Bisa jadi karena ketidaktahuan, atau bisa juga belum sempat mengajukan. Bank membuka ruang pengajuan keringan kredit melalui layanan telepon, via online, email, atau dapat mendatangi langsung bank.

OJK NTB pascamerebaknya virus Corona di Indonesia juga menerima laporan dari masyarakat. Salah satu bentuk laporan yang masuk adalah keinginan nasabah untuk mendapatkan keringanan kredit. Untuk laporan seperti ini, OJK mengarahkan ke bank terkait untuk dibijaksanai sesuai ketentuan yang ada di bank tersebut.(bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional