Potensi Hujan Kembali Berkurang, 297 Desa/Kelurahan Terdampak Kekeringan di NTB

Kondisi hutan dan lahan yang mengalami kekeringan di Kecamatan Badas Kabupaten Sumbawa. (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lombok Barat menyatakan potensi hujan di NTB kembali berkurang pada dasarian III September 2021. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mencatat jumlah daerah yang terdampak kekeringan di NTB bertambah menjadi 297 desa/kelurahan.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Suci Agustiarini, Jumat, 24 September 2021 menjelaskan berdasarkan hasil monitoring curah hujan di wilayah NTB pada dasarian II September 2021 berada pada kategori rendah hingga menengah yaitu 0 – 150 mm/dasarian. Curah Hujan tertinggi terjadi di wilayah Lunyuk, Kabupaten Sumbawa dengan jumlah curah hujan sebesar 140 mm/dasarian.

Iklan

Sifat hujan pada dasarian II September 2021 di wilayah NTB didominasi sifat atas normal (AN). Sifat hujan bawah normal (BN) terjadi di sebagian wilayah Lombok Timur dan Bima.

Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) provinsi NTB umumnya dalam kategori Sangat Pendek (1-5 hari). Di Pulau Lombok umumnya HTH masuk dalam kategori Sangat Pendek (1-5 hari) dengan beberapa wilayah di Lombok Timur bagian timur HTH berada pada kategori Panjang (21 – 30 hari).

Hal yang sama terjadi di wilayah Pulau Sumbawa, HTH didominasi kategori sangat pendek, yaitu 1-5 hari hingga  kekeringan ekstrem, di atas 60 hari. Kondisi HTH terpanjang terpantau di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima yaitu sepanjang 141 hari.

Suci menjelaskan Indeks ENSO menunjukkan kondisi netral, diprediksi kondisi netral setidaknya akan berlangsung hingga awal tahun 2022. Indeks Dipole Mode menunjukkan kondisi IOD netral dan kondisi IOD Netral akan berlangsung hingga awal tahun 2022.

“Saat ini, secara umum didominasi angin timuran di wilayah Indonesia termasuk Provinsi NTB dan diprediksi masih didominasi angin timuran hingga bulan  Oktober 2021,” terangnya.

Pergerakan MJO saat ini terpantau aktif pada fase 3 dan diprediksi masih akan aktif bergerak  hingga pertengahan dasarian II September 2021. Anomali OLR menunjukkan wilayah konveksi basah terjadi di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah pada pertengahan dasarian III Agustus hingga awal dasarian I September 2021.

Suhu muka laut disekitar wilayah Indonesia termasuk NTB, saat ini terpantau berada pada kategori hangat dan dipekirakan akan tetap hangat hingga akhir tahun 2021. Kondisi ini manambah potensi terjadinya hujan di wilayah NTB.

Dikatakan, pada dasarian III September 2021, terdapat potensi terjadinya hujan dengan intensitas rendah (>20 mm/dasarian) di sebagian wilayah NTB dengan peluang di atas 50 persen. Adanya peluang hujan rendah terjadi di sekitar wilayah Sekotong, sebagian Lombok Barat dan Lombok Tengah Bagian Utara, Sebagian besar Lombok Timur, Kabupaten Sumbawa Barat, sebagian Sumbawa, Bima dan Dompu.

“Peringatan dini kekeringan Provinsi NTB update 20 September 2021,  waspada potensi kekeringan di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima,” katanya.

Pada periode musim kemarau saat ini, kata Suci, masyarakat yang wilayahnya terdapat peringatan dini kekeringan meteorologis dengan level awas diimbau agar lebih bijak menggunakan air bersih serta waspada akan potensi terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan. Masyarakat juga diminta agar tetap waspada dan berhati – hati terhadap potensi terjadinya cuaca ekstrem secara tiba-tiba yang bersifat lokal.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Sahdan, S.T., M.T., mengatakan sampai dengan 24 September 202, sudah 5 wilayah yang telah menetapkan status siaga darurat dan satu wilayah telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan di NTB.

Pemprov NTB, telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Semua Kabupaten/Kota di Provinsi NTB sudah melaporkan terjadinya bencana kekeringan di masing-masing wilayah kecuali Kota Mataram dengan total terdampak sementara 74 Kecamatan, 297 Desa/Kelurahan, 158.451 KK, dan 580.587 Jiwa.

Daerah yang telah menetapkan tanggap darurat kekeringan adalah Kabupaten Sumbawa. Dengan jumlah masyarakat terdampak sebanyak 17.417 KK atau 69.668 jiwa pada 38 desa/kelurahan di 23 kecamatan.

Sedangkan lima daerah yang telah menetapkan status siaga darurat kekeringan, yaitu Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, Dompu dan Kota Bima. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional