Potensi Belum Tergarap, Industrialisasi Garam Dimulai

Andi Kusmayadi. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dari sekitar 3500 hektar potensi lahan garam di Sumbawa, baru sekitar 350 – 400 hektar yang tergarap atau baru sekitar 10 persen dari potensi yang ada. Itupun garapan garam rakyat maupun swasta masih terfokus pada tiga titik. Sehingga industrialisasi garam menuju garam beryodium kini mulai digarap.

Sebagaimana disampaikan Kabid Perindustrian Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Sumbawa, Andi Kusmayadi M.Si, kepada Suara NTB, Selasa, 25 Februari 2020.  Saat ini, ada tiga titik sentra produksi garam di Sumbawa. Yakni di Labuan Bontong kecamatan Tarano dengan luasan sekutar 350 hektar. Yang selama ini menghasilkan 5000 ton garam pertahunnya. Kemudian di Labuan Bajo kecamatan Utan yang hanya menghasilkan 200 ton pertahunnya. Sedangkan di Labuan Kuris kecamatan Lape, hanya 20 ton pertahun dengan luasan

Iklan

Minimnya pemanfaatan lahan garam di Sumbawa, akibat harga garam yang anjlok hanya Rp. 500 per kilogram.  Sehingga dibutuhkan industrialisasi mneuju garam beryodium. Dalam hal ini, Pemkab Sumbawa akan membangun gedung produksi dan mesin pengolahan garam beryodium di Labuan Bontong pada tahun ini. Anggarannya bersumber dari DAK Kementrian Perindutrian dengan nilai Rp. 3,4 Miliar. “Bangunan ini segera ditender,”singkatnya.

Mesin pengolahan garam tersebut berkapasitas 20 ton perharinya. Dengan mnegcu keada tren produksi garam Labuan Bontong. “Kita menghadikan pabrik produksi garam beryodium. Sebab kalau garam beryodium harganya bisa Rp. 5000 per 250 gram atau Rp. 20 ribu perkilogram. Syarat garam berodium pun harus ber SNI dan ini juga telah dicoba di Labuan Kuris,” tukas Andi. (arn)