Posisi Dr. Jack Digantikan Istrinya Jadi Direktur RSUD Mataram

Ni Ketut Eka Nurhayati. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Prediksi publik terhadap pengisian jabatan strategis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram tak jauh melenceng. Jabatan ditinggalkan dr. H. Lalu Herman Maha Putra atau dr. Jack digantikan oleh istrinya, dr. Ni Ketut Eka Nurhayati sebagai Direktur RSUD Kota Mataram.

dr. Eka demikian ia biasa disapa dilantik Kamis, 7 Oktober 2021 bersamaan dengan tujuh jabatan pimpinan tinggi pratama hasil seleksi September lalu. Sementara, pesaing beratnya dr. Emirald Isfihan ditempatkan sebagai Wakil Direktur RSUD Kota Mataram menggantikan jabatan yang ditinggalkan H. Zuhad.

Iklan

Dalam memimpin rumah sakit, Eka memastikan akan mengakomodir seluruh komponen untuk bekerja dalam sistem. Artinya,tidak boleh ada satu orang pun merasa hebat. Tetapi semua harus bekerja secara system. Baik itu teknologi, sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana. “Pokoknya tidak boleh ada satu matahari di rumah sakit. Semua harus sama – sama bekerja dan saling mendukung,” katanya.

Sistem ini akan menggerakan seluruh. Bagaimanapun juga ujung tombak dari pelayanan rumah sakit adalah keterlibatan seluruh komponen. Menurutnya, sistem yang telah terbangun saat ini akan dijalankan. Hal – hal yang krusial tidak perlu diubah. Perlu ditonjolkan adalah inovasi yang harus ditingkatkan. “Bulan – bulan pertama saya akan launching program baru. Istilahnya sebuah inovasi baru pelayanan masyarakat di rumah sakit,” jelasnya.

Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana mengatakan, pengisian formasi jabatan Direktur RSUD Kota Mataram menjadi pembicaraan hebat di tengah masyarakat. Tiga kandidat yakni dr. Ni Ketut Eka Nurhayati, dr. Emirald Isfihan dan drg. Ahmad Zulfikar diberikan ruang melakukan kerja – kerja untuk peningkatan kualitas pelayanan. “Tiga kandidat kemarin di pansel itu sudah menempati posisi di rumah sakit. Mereka bertiga ini harus menunjukan kerja berkualitas,” katanya.

Orang nomor satu di Kota Mataram berpesan di internal rumah sakit tidak boleh ada yang berjalan di belakang. Hal ini berpeluang mengkritisi dan mengkoreksi kebijakan, sehingga mengganggu ritme pekerjaan. Demikian juga sebaliknya, tidak boleh ada yang berjalan di depan. Ini dikhawatirkan melampui kewenangan dari pimpinan. Oleh karena itu, manajemen di rumah sakit harus berjalan berdampingan dan saling menasehati.

Rumah sakit demikian kata Mohan, investasi berharga karena menjadi etalase pelayanan publik. “Pelayanan rumah sakit ini juga bagian dari reputasi saya bersama TGH. Mujib dalam memimpin,” terangnya. Tiga pejabat rumah sakit yang dilantik pun diingatkan menjaga integritas serta menunjukan kerja baik demi membawa rumah sakit yang lebih baik. (cem)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional