Ponpes Diingatkan Harus Bangun Kemandirian Ekonomi

Pengurus YSCN saat sosialisasi pentingnya bisnis provider pada pengurus ponpes di Mataram dan Lobar, Kamis (14/1). (Suara NTB/dys)

Mataram (Suara NTB) – Yayasan Sang Cahaya Nusantara (YSCN) Mataram mengajak pengurus pondok pesantren (ponpes) agar mulai membangun kemandirian ekonomi melalui bisnis. Salah satu segmentasi bisnis yang didorong ialah bisnis provider.

Ketua Pembina Yayasan Sang Cahaya Nusantara Mataram, TGH Subki Sasaki, mengingatkan pengelola ponpes untuk mulai berpikir terbuka dengan perubahan kondisi saat ini. Apalagi dunia tengah berlari ke tengah perubahan dari segala aspek.

Iklan

Bisnis provider jadi bisnis yang menjanjikan, sehingga, penting bagi pengelola ponpes untuk terbuka dan terjun pada bisnis yang diklaim sebagai bisnis paling prospektif saat ini dan ke depan.

Menggandeng PT Mortalindo sebagai salah satu provider di Indonesia, Yayasan Sang Cahaya Nusantara memperkenalkan berbagai potensi bisnis dan peluang dalam membangun kemandirian ekonomi di tengah ponpes.

Sosialisasi yang melibatkan ponpes baik di bawah Kemenag dan lembaga pendidikan di bawah dinas diharapkan mampu memenuhi kebutuhan akses lembaga pendidikan terhadap kebutuhan jasa internet di sekolah dan ponpes. Tidak saja dapat digunakan untuk lembaga sendiri, namun juga dapat dikomersilkan di tengah masyarakat. Dengan begitu lembaga pendidikan akan mendapatkan benefide.

“Tujuannya ialah agar anak anak kita di ponpes bisa lebih ketersediaan akses informasi dan khususnya jaringan bisa lebih mudah dan ini lebih murah,” paparnya.

Sebagai pengelola ponpes, Subki Sasaki menilai bahwa ketersediaan jaringan selama ini ada, akan tetapi kadang harganya masih mahal.  “Terhadap juga penggunaan santri sehingga ini bisa jadi jaringan alternatif karena di masa pandemi ini banyak orang butuh kuota. Ponpes bisa menjual lagi data ke masyarakat, sehingga ada ladang ponpes dan banyak yang lain lagi yang bisa tergarap,” ujarnya.

Adapun sasaran saat ini hanya ialah ponpes yang ada di Mataram dengan Lombok Barat (Lobar) sebagai pilot project. Nantinya diharapkan daerah seperti Loteng akan menyusul.  “Setelah ini baru kita lihat respons. Kalau speed-nya tinggi dan murah saya kira pasti akan beralih,” harapnya. (dys)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional