Polresta Mataram Usut Proyek Lapak Ampenan

Kadek Adi Budi Astawa. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Tempat wisata kuliner di Pantai Ampenan, Ampenan, Mataram belum sepenuhnya ditempati. Lapak tersebut ditolak pedagang karena sempit dan tertutup. Proyek pembangunannya pada tahun 2019 lalu kini jadi bahan penyelidikan Polresta Mataram.

Proyek lapak pedagang Pantai Ampenan tersebut dibangun dengan anggaran Dana Alokasi Khusus Dinas Pariwisata Kota Mataram tahun 2019. Pagu anggarannya Rp3,6 miliar. Proyek tersebut dikerjakan CV Graha Utama yang memenangi tender dengan penawaran harga perkiraan sendiri Rp2,41 miliar. Kasatreskim Polresta Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa mengonfirmasi pihaknya sedangan pada tahap awal pengusutan proyek tersebut. “Kita masih penyelidikan,” ujarnya menjawab konfirmasi Sabtu, 17 Oktober 2020.

Iklan

Penyidik Unit Tipikor, sambung dia, sudah mengumpulkan data dan bahan keterangan. Termasuk mengantongi dokumen terkait proyek dikerjakan selama empat bulan tersebut. Proyek pembangunan 92 lapak itu sudah diserahterimakan dari rekanan pelaksana ke Dispar Kota Mataram. Tapi belum ditempati. Penyidik pun sudah mengklarifikasi saksi terkait. Mulai dari pihak pemilik proyek yakni pejabat pada Dispar Kota Mataram, maupun dari pelaksana proyek.

“Sudah ada dua orang (saksi). Data masih disinkronkan dengan ketarangan saksi,” ungkap Kadek Adi. Dalam tahap penyelidikan awal ini pun, imbuhnya, tim penyidik sudah berkoordinasi dengan auditor pada BPKP Perwakilan NTB. Hal ini untuk mencari indikasi kerugian negara dari proyek yang sampai ini belum bisa dimanfaatkan tersebut. Dugaan awalnya, ada kekurangan pekerjaan minus 3 persen. “Dugaan awalnya seperti itu. kita masih diskusikan dengan mereka (BPKP),” tandas Kadek Adi. (why)