Polres Lobar Bekuk Terduga Pelaku Curat Lintas Provinsi

Terduga perlaku curat sindikat lintas provinsi ditangkap tim Puma Polres Lobar dan Opsnal Polsek Senggigi.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) -Para terduga pelaku pencurian dengan pemberatan (Curat) insial SF dan DF warga Makassar Makassar, Sulawesi Selatan dibekuk tim Puma Polres Lobar dan tim Opsnal Satuan Reskrim Polsek Senggigi. Penangkapan pelaku yang diduga sindikat pencuri lintas Provinsi ini dilakukan Senin, 23 November 2020. Dari tiga pelaku utama, satu orang kabur dan ditetapkan masuk DPO (Daftar Pencairan Orang).

“Pengungkapan kasus Curat kita kali ini adalah sindikat pelaku Curat antar pulau,” ungkap Kapolres Lobar, AKBP Bagus S. Wibowo didampingi Kapolsek Senggigi Kapolsek Senggigi, AKP Bowo Tri Handoko dalam konfrensi pers di Mapolsek Senggigi, Kamis, 26 November 2020.

Dari tiga tersangka yang telah diidentifikasi, dua orang tersangka utama yang telah berhasil diamankan merupakan warga asal Makassar, Sulawesi Selatan. Ia membeberkan kronologi kejadian. Korban bernama Lalu Muhamad Muklis, yang merupakan warga Terong Tawah melapor ke Polsek Senggigi terkait peristiwa yang menimpanya saat membeli bunga di jalan raya Senggigi depan gerbang perumahan Ayodya Palace, Desa Meninting, kecamatan Batu Layar, 31 Oktober 2020 lalu. “Saat itu saudara Muklis sedang membeli bunga, beberapa waktu kemudian dirinya mengetahui kendarannya dirusak oleh pelaku dan barang-barang di dalam kendaraan itu diambil” tuturnya.

Setelah dua minggu penyelidikan berlangsung, pihak kepolisian kemudian mengamankan para tersangka di daerah Ampenan. Dari penyelidikan sementara, diketahui tersangka utama berjumlah tiga orang. Satu orang sudah ditangkap dan satu orang masih masuk dalam DPO. Kemudian tiga orang tersangka lainnya yang bertindak sebagai penadah juga telah berhasil diamankan di Polsek Senggigi. Di mana, ketiganya berasal dari Batukliang, Lombok Tengah berinisial DR, HR dan MK. Modus tersangka sebelum beraksi adalah mengintai terlebih dahulu terhadap calon korbannya. Setelah itu, tersangka akan menentukan siapa yang akan dijadikan sasaran. Kemudian tersangka utama menggunakan peralatan semacam obeng untuk memcahkan kaca mobil korban. “Setelah kaca mobil korban pecah, kemudian tersangka mengambil barang-barang yang ada di dalam kendaraan tersebut,” beber Kapolres.

Barang bukti yang berhasil diamankan yaitu berupa alat yang digunakan untuk merusak kaca mobil korban, HP Samsung J7 milik korban yang diambil dari dalam mobil, uang tunai Rp 100 ribu sisa hasil penjualan HP korban. Serta HP yang digunakan untuk berkomunikasi oleh tersangka. Adapun barang bukti lain yang diamankan, yakni kendaraan roda dua (motor) yang digunakan tersangka untuk melarikan diri. Serta, mobil korban yang kacanya dipecahkan oleh tersangka beserta kaca mobil yang pecah seribu yang sudah dimasukkan ke dalam klip plastik bening. Akibat dari kejadian tersebut, korban mengalami kerugian sebesar Rp 4 juta.

Kronologi penangkapan tersangka, bermula saat Tim Puma memperoleh informasi mengenai HP samsung J7 milik korban dikuasai oleh MK. Kemudian tim Puma melakukan penangkapan terhadap MK. “Dari hasil introgasi terhadap MK, dia mengaku memperoleh HP itu karena menerima gadai seharga Rp 600 ribu,” jelasnya.

Kemudian dari tersangka HR, diperoleh informasi bahwa HP tersebut dibelinya seharga Rp 700 ribu dari tersangka DR. Tersangka DR pun mengaku bahwa HP tersebut diperolehnya dari tersangka SF. Dari informasi tersebut Tim Puma bergerak melakukan pengejaran terhadap tersangka SF. Pada saat diminta untuk melakukan reka adegan saat dirinya memecahkan kaca mobil korban, tersangka melakukannya lebih cepat dari prediksi yang dijawabnya saat diinterogasi. Tersangka dapat memecahkan kaca mobil tersebut bahkan dalam waktu kurang dari lima menit.

Kapolsek Senggigi, AKP Bowo Tri Handoko mengimbau kepada masyarakat yang berkunjung atau berwisata di kawasan Senggigi untuk bisa lebih berhati-hati. Jangan sampai meninggalkan barang berharga di dalam kendaraan. “Tolong jangan memancing kepada upaya-upaya pelaku yang bisa menimbulkan niat dan kesempatan serta peluang timbulnya tindak kejahatan” pesan Kapolsek. Saat ini, pihaknya masih melakukan pengembangan penyelidikan, apakah tersangka pernah melakukan tindak kriminal serupa di tempat lain. “Jadi selama ini, dari informasi yang kami dapatkan, dia baru datang ke Lombok ini pada bulan September,” katanya. Akibat perbuatannya, tersangka (pelaku utama) disangkakan dengan pasal 363 ayat (1) KUHP dengan ancaman tujuh tahun penjara. Kemudian pelaku penadah disangkakan dengan pasal 480 KUHP dengan ancaman empat tahun penjara. (her)