Polres Dompu Selidiki Dugaan Percobaan Pemerkosaan Oleh Oknum Kades

Dompu (Suara NTB) – Seorang oknum Kades di Dompu, Sr (38) diduga melakukan percobaan pemerkosaan terhadap Rs, seorang ibu rumah tangga di Dompu, Kamis, 19 Oktober 2017. Kasus tersebut kini tengah dalam penyelidikan oleh aparat kepolisian.

Sr diduga melancarkan aksi bejatnya saat membeli rokok di rumah korban. Saat itu, ia tiba-tiba menerobos masuk dalam rumah lalu memeluk dan menjamah bagian pribadi Rs yang tengah ditinggal sang suami ke Mataram.

Iklan

Mendapat perlakuan itu, korban berusaha melawan dan berteriak meminta pertolongan, hingga akhirnya Sr melarikan diri.

Kapolres Dompu, AKBP Jon Wesly Arianto, S.IK, membenarkan adanya kasus percobaan pemerkosaan oleh kades tersebut. Ia menegaskan, polisi akan menanganinya secara profesional. Namun demikian, perlu dilengkapi dua alat bukti untuk terpenuhinya unsur tindak pidana yang dilakukan.

“Kalau dua alat bukti sesuai dengan KUHP itu terpenuhi pastinya kita akan proses, tapi kalau memang tidak terbukti ya kita harus memberi kepastian hukum,” katanya kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (24/10).

Sejauh ini pihaknya masih melakukan penyelidikan, karena berdasarkan informasi yang diterima dari penyidik, bahwa belum ada saksi yang benar-benar melihat peristiwa itu. Sehingga dirasa sulit terungkap, apalagi perkara semcam ini menuntut terpenuhinya dua alat bukti.

Sementara, kades sendiri belum diketahuinya apakah sudah diamankan atau telah mengamankan dirinya ke Mapolsek Manggelewa. “Dia (kades, red) kalau mengamankan diri dan sebagainya yang paling penting adalah kita tidak terlibat dalam politik praktis, karena ini menjelang Pilkades ini suasana politik memanas, makanya kita berpegang pada dua alat bukti,” tegasnya.

Kapolres mengatakan, kasus dugaan percobaan pemerkosaan yang informasinya dilakukan untuk kedua kalinya ini belum bisa dipastikan bagaimana kesimpulannya. Perkara ini akan dipastikan pihaknya setelah rampung mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi-saksi.

Pihaknya pun tak bisa gegabah mengambil tindakan, karena dalam penegakan hukum juga perlu dilihat situasi yang tengah berkembang di masyarakat, dan kasus ini tak menutup kemungkinan sengaja dimanfaatkan oknum terntentu jelang Pilkades serentak November mendatang. “Maka dari itu saya nyatakan ini masih dalam proses penyelidikan,” pungkasnya. (jun)