Pesan Politik di Balik Manuver Elite PDIP, PKS dan Gerindra

Pertemuan tiga elit parpol, H. Rachmat Hidayat, HBK, dan Zulkieflimansyah didampingi istri masing-masing, Rabu, malam, 27 November 2019. Pertemuan tersebut juga membahas rencana kolisi ketiga partai di Pilkada serentak 2020. (Suara NTB/ist)

Advertisement

Mataram (Suara NTB) – Dalam beberapa hari terakhir ini, tiga elit partai politik yakni, Ketua DPD PDI-P NTB, H. Rachmat Hidayat, Ketua BPD DPP Gerindra, Bambang Kristiono, dan Ketua Pemenangan Pilkada PKS yang juga Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah terus bermanuver jelang Pilkada serentak 2020 di tujuh kabupaten/kota di NTB.

Terhitung sudah dua kali ketiga elit parpol tersebut melakukan pertemuan. Salah satu isi pembicaraannya adalah soal penjajakan arah koalisi mereka dalam menyambut Pilkada serentak 2020. Dari pertemuan-pertemuan itulah tiga partai besar itu, yakni PDIP, Gerindra dan PKS menegaskan peluang menjalin koalisi dalam Pilkada makin mengerucut.

Pertemuan yang dijalin ketiga partai tersebut, menurut pemerihati politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Ihsan Hamid, MA tidak bisa hanya dibaca sebagai pertemuan sebatas untuk merancang arah koalisi. Tetapi juga secara kaca mata politik, pertemuan tersebut  pada saat yang bersamaan memberikan pesan politik kepada lawan politik yang akan saling berhadapan pada Pilkada serentak 2020.

“Pertemuan itu juga ditujukan menjadi sebuah pesan politik kepada pihak lawan, dengan harapan bisa memberikan efek gentar. Sehingga jika ketiga parpol besar ini benar terjalin koalisi, maka ini tentu satu kekuatan politik yang tidak bisa diremehkan,” ujarnya kepada Suara NTB, Kamis (28/11).

Hal itu diakui oleh ketua BPD DPP Gerindra, H. Bambang Kristiono alias HBK. “Kita jajaki kesepakatan koalisi untuk Pilkada (di NTB). Calonnya nanti lah,” ujar HBK, dalam keterangan persnya usai pertemuan tersebut, Rabu (27/11) malam di Pendopo Gubernur NTB.

Disampaikan HBK, pertemuan dari tiga elit partai tersebut merupakan tradisi baru untuk keterbukaan dan kewibawaan partai dalam berpolitik. Koalisi dibicarakan terbuka sehingga bisa meminimalisir dan mengubah stigma lama tentang partai politik. “Ini dilakukan karena PDIP, Gerindra dan PKS ingin menciptakan Pilkada yang baik dan berjalan fair play di NTB ini,” kata HBK.

Sebab, selama ini, dalam setiap pesta demokrasi selalu saja stigma soal mahar politik partai tertentu mencuat ke publik. “Gerindra setuju dengan koalisi ini. Intinya bagaimana memenangkan semua Pilkada dengan pola power sharing seperti ini,” tegas HBK.

Sementara itu, Ketua DPD PDIP NTB H Rachmat Hidayat menjelaskan, koalisi tiga partai ini tidak menutup pintu untuk partai lainnya bergabung. Tapi yang jelas, esensi koalisi ini adalah untuk memberikan keyakinan dan kepastian politik bagi para calon yang akan diusung.

Apalagi, dalam beberapa Pilkada sebelumnya, partai tertentu dicap sebagai penjual janji manis dengan mahar tinggi. “Kesan itu yang ingin kita kikis. Saat ini kita sepakati di Pilkada Kota Mataram, Lombok Utara, dan Lombok Tengah. Pulau Sumbawa belum, tapi akan ke arah sana juga,” tegasnya.

Sementara itu, Zulkieflimansyah sendiri menyampaikan bahwa selalu ada keputusan yang baik dalam setiap silahturahmi yang dibangun. Ia tidak menampik jika pertemuan tersebut tidak sekedar silaturahmi belaka, namun juga ada pembicaraan soal koalisi ketiga partai.  “Iya, ada ke arah koalisi. Ya kita buat berpolitik ini menarik, santun, dan fair lah,” katanya.

Meski membenarkan akan ada koalisi, namun Dr. Zul begitu Gubernur itu akrab disapa, juga masih enggan menyampaikan paket calon yang akan diusung. “Ini kan akan berkembang terus, berproses. Kita ikuti saja prosesnya,” katanya. (ndi)

Disqus Comments Loading...

This website uses cookies.