Mulai Luntur, Bakesbangpoldagri Bahas Penguatan Wawasan Kebangsaan

Mohammad Rum (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Provinsi NTB Rabu, November 2019 membahas empat pilar kebangsaan. Tema ini sengaja diusung, berangkat dari semakin lunturnya wawasan kebangsaan di NTB, padahal jadi modal dasar untuk menjaga kedaulatan.

Empat pilar itu yakni Pancasila, Undang Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan penguatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tema- tema yang dianggap sudah asing jadi pembahasan pada level pendidikan sampai masyarakat umum.

Danrem 162/WB Kol. CZI Ahmad Rizal Ramdhani saat menyampaikan materi wawasan kebangsaan. (Suara NTB/ars)

Atas dasar itulah, Bakesbangpoldagri Provinsi NTB kemarin mengundang sejumlah unsur jadi peserta Seminar Wawasan Kebangsaan. Sebagai pemateri Kepala Bakesbangpoldagri NTB, Ir. H. Mohammad Rum, MT, Danrem 162/WB Kol. CZI Ahmad Rizal Ramdhani serta dari akademisi Universitas Mataram (Unram).

Menurut Mohammad Rum, tujuan seminar kebangsaan itu untuk penguatan kembali pengetahuan tentang empat pilar kebangsaan tersebut. Ia menyinggung ketika era orde lama dan orde baru, nilai nilai dalam Pancasila dari TK, SD, SMP  bahkan sampai Perguruan Tinggi dan PNS masih membahas tentang penguatan Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

‘’Kita akan kembalikan wawasan kebangsaan itu, karena terus terang saja sudah mulai luntur. Harus ada semacam upaya kita, agar bangga sebagai bangsa Indonesia. Kebhinekaan dan Pacasila, ini yang perlu kita sama-sama jadi perhatian, terutama di sektor Pendidikan,’’ jelasnya menjawab Suara NTB.

Baca juga:  Hati-hati Posting Status di Medsos

Mantan Kepala BPBD NTB ingin mengembalikan kurikulum yang membahas wawasan kebangsaan  diperkuat lagi di sekolah-sekolah. Sektor pendidikan dan lingkungan kerja harus diintervensi dengan materi kebangsaan agar ada rasa cinta tanah air dan rasa memiliki yang kuat.

‘’Saya prihatin karena ini minim sekali. Sehingga tidak terasa, di lingkungan kita saja, kita konsumsi produk dari luar, seperti junk food.  Sementara produk lokal

kita sepi peminat,  padahal jauh lebih sehat,’’ kritiknya.

Jangan sampai, lanjutnya, generasi Indonesia lupa akan jati diri bangsa. Sehingga ketika ada upaya rongrongan dari pihak luar, tidak ada rasa khawatir, tidak ada rasa ketakutan, bahkan tidak ada perlawanan. Kekayaan alam yang indah, budaya dan sumber daya akan diambil dengan mudah. ‘’Kita tentu tidak mau ini terjadi. Makanya terus kita akan sampaikan melalui program program Wawasan kebangsaan selanjutnya, untuk jadi pengingat,’’ pungkasnya.

Sementara Danrem 162/WB Kolonel CZI Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos. SH. M.Han dalam paparannya menyampaikan pengertian tentang Wawasan Kebangsaan sebagai upaya meningkatkan rasa cinta tanah air, rela  berkorban dan nasionalisme.

Baca juga:  Hati-hati Posting Status di Medsos

Mengingat, katanya, Indonesia sebagai negara patriot. “Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan bangsa ini telah dibayar mahal dengan pengorbanan baik harta, benda, jiwa raga bahkan nyawa rela para pahlawan kusuma bangsa korbankan. Hasilnya kita bisa nikmati sampai saat ini,’’ ujarnya.

Era saat ini, salah satu ancaman lunturnya patriotisme adalah proxy war. Peperangan yang menggunakan pihak ke tiga sebagai dalang. Salah satunya melalui media sosial maupun pemberitaan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

‘’Mari kita bijak, cerdas dalam menyikapi berita atau informasi yang sifat kebenarannya belum diketahui secara pasti. Sehingga tidak salah dalam mengambil sikap dan keputusan,’’ ujarnya.

Selain itu, Danrem juga menyampaikan penyalahgunaan narkoba adalah salah satu wujud proxy war, bertujuan merusak jaringan saraf generasi penerus bangsa.  Narkoba masuk melalui jalur laut dan udara.

‘’Ini harus disikapi bersama dengan menindak tegas sesuai ketentuan hukum yang berlaku bagi para pengedar maupun pengguna narkoba,’’ tandasnya.

Hadir dalam seminar itu, sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, pelajar dan mahasiswa, serta perwakilan organisasi masyarakat dan pemuda.  (ars/*)