Pilkada KLU, PDI-P Tak Paksakan Dukung Kader

Raden Nuna Abriadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Konstelasi pilkada serentak 2020 di Kabupaten Lombok Utara (KLU) telah mulai mengerucut menjadi tiga poros kekuatan politik. Ketiga poros tersebut yakni bakal calon petahana, H. Najmul Akhyar, mantan Bupati KLU Djohan Sjamsu dan Sekda H. Suhardi.

Peta bangunan koalisi partai politik di Pilkada KLU pun tidak akan jauh dari ketiga poros tersebut. Komunikasi politik yang tengah terjalin oleh partai di KLU, juga tidak ke luar dari poros tersebut. Hal itu diakui oleh politisi PDI-P, Raden Nuna Abriadi yang juga digadang-gadang sebagai kandidat bakal calon.

“Semua figur punya kesempatan yang sama untuk tampil bertarung, saat ini masih dalam proses penjajakan. Peta yang ada sekarang ini baru tiga poros yang muncul untuk KLU 1 (calon bupati), yakni Najmul, Djohan dan  Sekda, Suhardi,” kata Nuna, yang dikonfirmasi Rabu, 21 Agustus 2019 kemarin.

Karena untuk calon bupati hanya menampilkan tiga figur tadi. Maka dinamika politik yang berlangsung di KLU saat ini terjadi dalam proses penentuan kandidat calon wakil. Posisi wakil sangat menentukan bagi kemenangan calon bupati, karena itu dalam proses pemilihan wakil terjadi dinamika politik yang tinggi. “Jadi sungguh sangat tergantung siapa wakil yang akan diambil, karena itu sangat menentukan,” kata anggota DPRD NTB dari dapil Lobar-KLU itu.

Baca juga:  Maju di Pilkada, Anggota Dewan Minta Syarat Mundur Dihapuskan

Lantas seperti apa posisi politik PDI-P sendiri dalam dinamika politik jelang Pilkada KLU. Apakah akan tetap mengajukan kadernya sebagai kandidat calon bupati atau wakil bupati? Nuna menjawab, partainya sangat realistis, tergantung dari kondisi fakta politik di lapangan.

“Secara politik PDIP memang ingin ikut memberikan sumbangsih yang besar kepada pembangunan KLU. Dengan mendorong kadernya untuk maju entah sebagai calon bupati atau wakil bupati. Tapi kita lihat peluangnya seperti apa nanti, ini kan masih berlangsung komunikasi-komunikasi politik,” katanya.

Akan sampai sejauh ini, proses komunikasi politik yang sedang terbangun di KLU masih berlangsung dinamis. Belum ada satupun partai yang sudah mencapai kesepakatan untuk membangun koalisi. PDI-P sendiri terus mengikuti perkmbangan dinamika politik tersebut.

Baca juga:  Kendala Finansial, Mariadi Urungkan Niat Maju di Pilkada KLU

“Memang partai-partai belum ada titik temu mau ke mana arah dukungan. Belum ada kesepatakan, karena masih dinamis. Kita juga lihat peluang, kalau memang mendorong kader jadi wakil juga kita tidak bisa, ya kita akan mendukung calon yang ada,” katanya.

Diketahui PDI-P memiliki tiga kursi di DPRD KLU. Dengan modal tiga kursi itu partai banteng moncong putih tersebut memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk menyodorkan kadernya bisa tampil mininal sebagai kandidat calon wakil. Namun demikian, Nuna sendiri yang dicalonkan mengaku tetap harus realistis.

“Kita tidak saklek harus kader yang akan kita dukung, siapa yang punya kemampuan. Kalaupun ada nama saya yang didorong, saya  sangat hargai sekali harapan masyarakat saya bisa berikan kontribusi. Tapi kita lihat peta politik di lapangan, kita hitung juga, tidak serapanganlah,” pugkasnya. (ndi)