Kendala Finansial, Mariadi Urungkan Niat Maju di Pilkada KLU

Mariadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Mariadi merupakan salah satu figur kader Partai Golkar yang cukup kuat digadang-gadang tampil di Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU) 2020 mendatang. Namun, karena alasan tidak memiliki finasial yang menunjang, Mariadi dikabarkan memilih mengurungkan niatnya maju.

Sekretaris DPD I Partai Golkar NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda yang dikonfirmasi terkait hal itu tidak menampiknya. Ia mengatakan bahwa Mariadi kemungkinan besar tidak akan ikut maju. Hal itu juga sudah disampaikan langsung oleh Mariadi kepada partai, dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Salah satunya yakni soal kekuatan finansial.

“Pak Mariadi adalah kader yang baik, dia cukup bagus untuk dicalonkan. Tapi kita tidak bisa paksakan beliau untuk menjadi calon. Karena Pak Mariadi mengaku tidak memiliki dana. Mariadi itu punya jaringan, mental dan elektabilitas yang bagus, tapi mungkin tidak punya dana,” kata Isvie, Selasa, 20 Agustus 2019.

Menurut Isvie, partai siap untuk mengusung Mariadi, namun punya kendaraan politik saja tidak cukup untuk menjadi seorang calon, sebab partai hanyalah sebatas penunjang. Akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kesiapan dari calon itu sendiri. Sehingga ketika  Mariadi mengaku tidak siap maju, maka Golkar pun tidak bisa memaksakannya.

Baca juga:  24.922 KTP, Syarat Dukungan Balon Perseorangan Kota Mataram

Dengan dipastikannya Mariadi tidak akan tampil maju, maka menurut Isvie partainya pun bakal mencari alternatif lain. Golkar di KLU disebut Isvie tidak kekurangan stok kader potensial. “Saya kira kita akan cari alternatif lain, masih ada pak Djekat  Ketua DPD, beliau juga bagus. Ada juga anggota dewan KLU Pak Ihwan. Saya kira Golkar tidak kekurangan stok kader,” katanya.

Untuk sementara ini, di Pilkada KLU, konstelasi politik masih didominasi oleh dua figur

yang kembali bakal bertarung, yakni calon petahana Najmul Akhyar dan mantan Bupati, Djohan Sjamsu. Diluar kedua nama itu, belum ada sosok figur yang muncul untuk menjadi bakal calon Bupati.

Menanggapi peta politik KLU tersebut, Isvie mengaku partainya tidak gentar. Partainya akan tetap berusaha mencalonkan kadernya. “Saya belum lihat peta itu, tentu bagi kita yang penting menang, mau poros baru dan poros lama tidak masalah. Karena Golkar di sana tidak bisa mengusung sendiri, sehingga kita akan bangun koalisi,” katanya.

Ditempat terpisah sebelumnya, Mariadi mengungkapkan, pihaknya sementara ini memastikan dirinya bakal absen pada kontestasi Pilkada KLU 2020 tersebut karena alasan belum mendapat restu dari keluarga. “Khusus untuk saya masih ada pertimbangan yang sifatnya pribadi. Keluarga dan warga sendiri menginginkan saya untuk tetap melanjutkan amanah di DPRD. Padahal kalau untuk saya pribadi sangat ingin mencalonkan diri baik menjadi calon bupati dan wakil,” ujarnya.

Baca juga:  KPU akan Terapkan Sistem E-Rekap di Pilkada 2020

Dikatakan Mariadi persoalan pilkada bukan hanya persoalan perorangan, tetapi juga menjadi persoalan partai dan kelembagaan. Di Partai Golkar, lanjut Mariadi sejauh ini memang sudah ada pemanasan-pemanasan untuk mendiskusikan siapa figur yang akan didorong Golkar untuk maju sebagai calon bupati dan wakil bupati. Ia menyebutkan, di Golkar banyak figur, salah satunya yakni Djekat yang lebih senior.

“Kami akan lebih intens lagi mendiskusikan persoalan tersebut di partai, karena saya ini kan milik masyarakat, milik partai, jika nanti partai mengamanatkan saya untuk maju di Pilkada tentu kami akan mendiskusikan kembali dengan keluarga. Tapi sejauh ini justru pihak keluarga memberikan pertimbangan kepada partai termasuk kepada ketua agar saya tetap di DPRD,” pungkasnya. (ndi)