Suhardi Soud, ‘’Nahkoda’’ Baru KPU NTB

Ketua KPU RI, Arif Budiman memberikan ucapan selamat kepada Suhardi Soud yang terpilih kembali sebagai komisioner, sekaligus dipercaya menjadi Ketua KPU Provinsi NTB periode 2019-2024. (Suara NTB/KPU NTB)

Jakarta (Suara NTB) – Lima komisioner baru KPU Provinsi NTB periode 2019-2024, dilantik Ketua KPU RI, Arif Budiman, Selasa, 22 Januari 2019 di Jakarta. Usai pelantikan, langsung digelar rapat tertutup dengan agenda pemilihan ketua.

Proses pemilihan Ketua KPU Provinsi NTB, berlangsung cukup alot. Kelima komisioner itu membutuhkan waktu hampir dua jam untuk bermusyawarah menghasilkan keputusan siapa yang akan ditunjuk sebagai Ketua KPU.

Syamsuddin, selaku anggota KPU NTB yang paling senior dari sisi usia, ditunjuk sebagai pimpinan rapat tertutup, mengakui bahwa proses pemilihan Ketua KPU NTB berlangsung alot. Sehingga harus memakan waktu lama untuk bisa menghasilkan keputusan.

Menurut Syamsuddin, pemilihan Ketua KPU Provinsi NTB merupakan keharusan, karena menjadi perintah langsung dari undangan-undang. Dalam pemilihan, harus dilaksanakan dalam rapat tertutup lima anggota KPU. Sebelum masuk ke agenda pemilihan, pimpinan rapat terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk menyampaikan pendapatnya masing-masing.

‘’Pada saat rapat tadi memang berlangsung agak alot. Karena saya ditunjuk sebagai pemimpin rapat, agar tidak dianggap otoriter, oleh karena itu saya berikan kesempatan kepada anggota yang lain untuk menyampaikan harapannya kedepan untuk KPU NTB,’’ katanya kepada Suara NTB saat dikonfirmasi usai pemilihan Ketua KPU.

Baca juga:  KPU Harap Hibah Anggaran Pilkada Disepakati Paling Lambat Oktober

Memasuki agenda pemilihan Ketua KPU NTB, dari lima anggota tiga orang menyatakan maju mencalonkan diri sebagai Ketua, mereka adalah Suhardi Soud, Yan Marli dan Syamsuddin. Sementara dua anggota lainnya menyatakan diri tidak mencalonkan diri, yakni Agus Hilman dan Zuriati.

‘’Karena ada tiga orang yang maju, dilakukanlah diskusi dan lobi internal,’’tutur Syamsuddin.

Setelah melakukan diskusi dan menempuh mekanisme lobi internal,  pencalonan mengalami perubahan. Syamsuddin sendiri mengundurkan diri sebagai calon ketua. Sehingga tersisa dua orang yang masih bertahan menjadi calon, yakni Suhardi Soud dan Yang Marli. Diketahui mereka berdua merupakan anggota KPU petahana yang terpilih lagi untuk periode kedua.

‘’Kedua orang (calon) ini kita minta  berbicara empat mata, apakah keduanya tetap maju sebagai calon atau salah satunya mudur. Ternyata dinamikanya alot juga dan keduanya tetap bertahan maju,’’ katanya.

Karena ada dua calon, maka tiga anggota lainnya yang tidak mencalonkan diri akhirnya menggelar rapat untuk membahas langkah yang akan ditempuh dalam memilih Ketua KPU NTB tersebut.

‘’Setelah kami berdiskusi panjang, dengan dinamika yang cukup alot juga. Akhirnya suara kami bulat untuk memilih salah satunya, yakni memilih Pak Suhardi Soud menjadi ketua. Setelah kami bertiga selesai berdiskusi,  kami panggil kedua calon untuk menyampaikan keputusan kami yang sudah final dan keputusan itu diterima,’’ katanya.

Baca juga:  KPU Harap Hibah Anggaran Pilkada Disepakati Paling Lambat Oktober

Suhardi Soud yang dikonfirmasi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada keempat rekannya yang telah memberikan dia amanah untuk menjadi Ketua KPU Provinsi NTB periode 2019-2024. Ia pun berjanji, kepercayaan yang telah diberikan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk menyelenggarakan pemilu yang lebih baik lagi.

‘’Saya sebagai ketua, hanya fasilitator dari lima komisioner. Kami harus tetap menjaga irama internal dengan soliditas. Kemudian terkait dengan pembagian divisi, kita akan ketemu lebih lanjut untuk membahasnya, karena harus serius mana yang paling pas di divisinya,’’ kata Suhardi.

Mantan Ketua KPU Kabupaten Sumbawa menambahkan, pihaknya akan langsung tancap gas untuk bekerja. Mengingat waktu pelaksanaan Pemilu 2019 tersisa tinggal dua bulan lagi.

‘’Kami tidak punya waktu lagi untuk berleha-leha, kita harus langsung jalan, berlari, dan  bekerja. Kita bersyukur lima orang ini adalah orang yang sudah jadi, sehingga tidak perlu belajar lagi,’’ pungkasnya. (ndi)