Pemilih Capres/Cawapres Belum Tentu Pilih Parpol Pengusung

Ayatullah Hadi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemilih Capres/Cawapres tidak otomatis akan menjadi pemilih partai politik pengusungnya. Karena karekteristik pemilih dalam menentukan pilihannya bukan pada partai, tapi melainkan figur calon anggota legislatif (caleg) yang diturunkan bertarung.

Karena itu, partai politik pengusung salah satu pasangan Capres/Cawapres agar tidak terlalu berharap untuk memperoleh efek ekor jas dari pasangan Capres/Cawapres yang mereka usung. Partai politik jika ingin meraup suara yang banyak tetap harus bekerja keras.

Hal itu diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Mataram, Ayatullah Hadi kepada Suara NTB, Senin, 10 Desember 2018 kemarin. “Ada pengaruh efek ekor jas terhadap elektabilitas partai, tapi tidak akan berdampak signifikan terhadap kenaikan elektabilitas partai ketika parpol tidak menghadirkan calon terbaiknya,” ujarnya.

Efek ekor jas akan besar berpengaruh bila pengusung pasangan Capres/Cawapres itu kecil. Namun dengan sistem di Indonesia yang multi partai, sangat

sulit untuk membagi efek ekor jas dalam meningkatkan elektabilitas partai.

Karena itu, Ayatullah Hadi menganggap wajar, jika partai menjadikan pileg sebagai konsentrasi nomor satu untuk dikampanyekan ketimbang kampanye Pilpres.

“Karena pelaksnaan pemilu secara bersamaan, maka  konsentrasi pemenangan pasti akan terbelah. Kecil kmungkinan Parpol akan berkampanye hanya untuk calon presiden semata, karena kursi di DPR itu tak kalah pentingnya untuk dimenangkan,” katanya.

Karena itu jika ingin partai politik meraup suara yang signifikan, tidak harus mengandalkan pasangan Capres/Cawapres yang mereka usung. Sebab, pemilih pasangan Capres belum tentu akan memilih partai tersebut.

“Maka dengan demikian, parpol jangan terjebak dengan efek ekor jas. Sebaiknya efek ekor jas juga harus diimbangi dengan mengahadirkan caleg terbaiknya. Sehingga pemilu disi oleh para caleg yang terbaik parpol dalam mengisi lembaga parlemen ke depan,” pungkasnya. (ndi)