Ahyar Memilih Setia di Golkar

0
74

Mataram (Suara NTB) – Mantan Calon Gubernur NTB, H. Ahyar Abduh menegaskan dirinya tetap akan setia menjadi kader Partai Golkar sampai kapanpun. Karena bagi dirinya, Golkar sudah mendarah daging dalam dirinya.

‘’Saya masih kader Golkar, sulit dan berat bagi saya tinggalkan Golkar. Karena saya dibesarkan oleh Golkar dan saya juga membesarkannya,’’ kata Ahyar.

Mantan Ketua DPD II Golkar Kota Mataram itu, mengaku, bahwa sampai saat ini tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk pindah partai. Sekalipun ia semakin dikecewakan karena tidak didukung pada Pilkada NTB 2018. ‘’Jadi sampai hari ini belum terpikirkan untuk pindah partai. Saya bukan tipe orang yang suka loncat-loncat, masih tetap setia,’’ sambungnya ketika dikonfirmasi, kemarin.

Namun demikian, meskipun dirinya memilih untuk tetap setia bersama beringin. Akan tetapi jika Golkar sendiri yang memilih untuk ‘’menceraikannya’’, maka ia mengatakan tak memiliki kuasa untuk tetap bernaung di bawah Partai Beringin itu.

‘’Tapi bisa jadi, kalau ada sesuatu yang luar biasa terjadi (dipecat). Semua itu bisa saja terjadi kepada saya. Tetapi yang pasti sampai hari ini saya pribadi belum ada terpikirkan untuk pindah partai,’’ katanya.

Adapun alasan mengapa Walikota Mataram ini tetap memilih setia bersama Golkar. Karena capaiannya dalam karir politiknya hingga bisa menjabat sebagai Walikota Mataram dua periode karena Golkar. ‘’Sejak tahun 1994 saya mulai mengenal dunia politik, saya bersama Golkar.  Dari empat kursi menjadi sembilan kursi, Golkar menjadi partai pemenang,’’ jelasnya.

Lantas bagaimana hubungan dengan Ketua DPD I Partai Golkar NTB, H. M. Suhaili FT yang juga rivalnya di Pilkada NTB 2018? Ahyar mengatakan secara pribadi hubungannya dengan Suhaili baik-baik saja. Meskipun diantara mereka berdua dalam Pilkada 2018 dalam posisi berkompetisi.

‘’Hubungan saya baik-baik saja dengan Pak Suhaili. Hubungan saya sangat baik, kami bersahabat dari orang tua kami. Begitu juga antara kami. Jadi sangat dekat  dan sangat sudah sangat jauh kami bersahabat,’’ kata mantan Ketua DPRD Kota Mataram ini.

‘’Adapun kemarin ya kita sedang dalam posisi berkontestasi politik dengan segala dinamikanya, biasa lah itu. Kalaupun terjadi persinggungan, itu juga biasa dalam persaingan politik. Tapi bukan dalam rangka saling menjatuhkan, tapi saling mengisi,’’ ujarnya.

Namun demikian, Ahyar mengakui sejak pegelaran Pilkada selesai sampai saat ini belum ada lagi pertemuan dengan Suhaili. Terakhir bertemu pada saat kegiatan debat kandidat kedua. ‘’Belum ada komunikasi. Mungkin karena kesibukan kami masing-masing. Tapi kapanpun kami bisa bertemu,’’ katanya.

‘’Tapi yang jelas tidak ada masalah, semua sudah selesai. Kan terbukti kemarin ketika kami bertemu (saat debat) biasa saja, meskipun sedang hangat-hangatnya politik,’’ pungkasnya. (ndi)