Pertaruhan Golkar Kota Mataram di Pilkada NTB 2018

Mataram (Suara NTB) – Kota Mataram merupakan salah satu daerah lumbung suara bagi Partai Golkar. Bahkan saat ini diketahui, penguasa Kota Mataram, baik di eksekutif maupun legislatif dipegang oleh politisi Partai Golkar.

Oleh karena itu, di Pilkada NTB 2018 ini, akan menjadi pertaruhan bagi Partai Golkar sendiri, untuk memenangkan Ketua DPD I Partai Golkar NTB, H. M. Suhaili FT yang maju sebagai calon Gubernur dengan nomor urut 1.

Jika sampai pasangan Cagub/Cawagub nomor urut 1, Suhaili-Amin tak dapat suara besar di Kota Mataram, maka dipastikan mesin politik Partai Golkar di Kota Mataram tidak bergerak maksimal.

“Kita wakil wali kota/Plt walikota, ketua DPRD, kita pemenang Pemilu, apakah iya kita akan kalah di Kota Mataram di Pilkada NTB ini, kan mustahil. Itu sama saja politisi Golkar NTB mencoreng dirinya,” kata Ketua Harian DPD I Partai Golkar NTB, H. Misbach Mulyadi.

Baca juga:  Survei Pilkada, Golkar Petakan Kekuatan Politik di Tujuh Daerah

Hal itu juga disampaikan Misbach kepada kader Golkar Kota Mataram untuk meningkatkan semangat juang para kader Golkar, dalam bergerak memenangkan pasangan Suhaili-Amin. “Ya Pilkada ini akan menjadi pertaruhan politikus Golkar Kota Mataram untuk pemilu 2019,” katanya.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi kader Golkar Kota Mataram, kecuali sangat sungguh-sungguh bekerja keras memenangkan Suhaili – Amin. Kader Golkar Mataram harus tetap loyal kepada garis perjuangan partai, untuk memenangkan palson yang diusung, yakni Ketua DPD sendiri.

Baca juga:  Godok Calon, Golkar Tunggu Regulasi Pilkada

Hal itu disampaikan oleh Misbach juga untuk merespon sikap tidak jelas para petinggi Partai Golkar Kota Mataram dalam menentukan sikap dukungannya. Sebab diketahui di satu sisi, salah satu kader senior Golkar NTB, yakni Ahyar Abduh juga maju menjadi calon Gubernur.

Diketahui bahwa Ahyar merupakan kader Golkar dan juga Walikota Mataram dua periode, sekaligus mantan Ketua DPD II Partai Golkar Kota Mataram. Tetapi Ahyar maju menggunakan kendaraan politik lain, dan berhadapan melawan calon dari partai yang membesarkan namanya. (ndi)