Jauhi Polemik, Ahyar-Mori Fokus Beberkan Program di Debat Kandidat

Mataram (Suara NTB) – Pasangan TGH. Ahyar Abduh dan H. Mori Hanafi, SE, M.Comm, tampil dengan kecakapan ala negarawan saat mengikuti debat kandidat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Sabtu, 12 Mei 2018.

Dengan strategi menghindari konfrontasi dan fokus pada pendalaman materi dan data-data, duet yang diusung mayoritas parpol NTB ini mampu menyuguhkan ulasan-ulasan yang substansial.

Sepanjang debat, pasangan yang merepresentasikan Lombok dan Sumbawa, dua pulau besar di NTB ini selalu menitikberatkan setiap kesempatan untuk mengelaborasi janji kerja serta ide-ide. Sembari menjauhi polemik yang kurang bermanfaat.

Di awal sesi, TGH. Ahyar Abduh mengutarakan bahwa NTB untuk Semua adalah semangat dan komitmen pasangan ini.

“Artinya, Gubernur, Wakil Gubernur, menjadi pelayan bagi masyarakat. Khodimul Ummah. Gubernur, Wakil Gubernur, bekerja keras untuk menyejahterakan semua warga masyarakat. Petani, nelayan, buruh, pedagang, masyarakat kecil, para pemuda, para perempuan, warga kota dan desa,” ujarnya.

Untuk itulah, pasangan Ahyar-Mori berkomitmen untuk menyiapkan kartu petani dan kartu nelayan. Karena, petani dan nelayan berhak mendapatkan kesejahteraan.

“Kami juga mengalokasikan Rp200 juta per tahun, setiap desa. Dan kelurahan. NTB maju jika desa dan kelurahan maju. Kami juga akan mengembangkan 100 desa wisata,” pungkas Ahyar dalam sesi 90 menit itu.

Saat menghadapi pertanyaan terkait penataan birokrasi pemerintahan agar terhindar dari praktik politisasi birokrasi, Ahyar juga mengutarakan pengalamannya selaku Walikota. Strategi Ahyar-Mori dalam penataan birokrasi adalah melalui penguatan sistem dalam birokrasi.

Program e-Government yang sudah berjalan di Kota Mataram yang dipimpin Ahyar Abduh saat ini, akan diperkuat dalam skala yang lebih luas, yaitu di tingkat Provinsi NTB.

“Kita di situ sudah menjamin azas-azas kepastian, azas keterbukaan, dan juga tentu azas dimana seseorang yang kita tempatkan itu memiliki kemampuan secara profesional. Itu sudah kita lakukan untuk itu,” ujar tokoh kharismatis yang akrab disapa TGA ini.

Sesungguhnya, ujar TGA, semua pihak perlu menghindari terjadinya friksi-friksi di dalam keluarga besar birokrasi. Karenanya, kelak jika terpilih menakhodai pemerintahan provinsi NTB, pasangan Ahyar-Mori benar-benar akan menerapkan sistem yang sudah ada dalam penempatan pejabat di lingkup pemerintah.

Mori Hanafi selaku Calon Wakil Gubernur NTB juga tampil dengan pemaparan yang memukau saat memaparkan tentang kebijakan, strategi dan program menguatkan pendidikan, khususnya SMK dalam mengatasi pengangguran.

Menanggapi pertanyaan ini, Mori Hanafi menegaskan bahwa saat ini yang menganggur di NTB, memang bukan cuma yang lulusan SMK. Bahkan, dalam kesempatan yang begitu terbatas itu, Mori sempat memperkaya penjelasannya dengan mencuplik data pengangguran di NTB.

“Lulusan kuliah, setahun itu lebih dari 10 ribu orang. Angkatan kerja, yang masuk itu belasan ribu. Yang bisa ditampung oleh kita semua, itu hanya sekitar 1000 sampai 2000. Sisanya, tidak mempunyai pekerjaan,” ujar politisi Partai Gerindra ini.

Dengan demikian, ujar Mori, persoalan dalam memaksimalkan peranan institusi pendidikan sebenarnya bukan hanya terfokus di SMK. “Tapi adik-adik kita yang lulus kuliah pun banyak yang menganggur, saat ini. Dan itu adalah persoalan sosial kita semua yang ada di NTB. Dan mungkin juga secara nasional,” ulasnya.

Khusus di SMK, Mori menegaskan bahwa pemerintah provinsi NTB saat ini belum terlalu berpihak pada penguatan peranan SMK. “Kenapa saya katakan demikian, sehubungan dengan rencana pemerintah provinsi saat ini ingin mengurangi SMK, padahal kita butuh,” ujarnya.

Padahal, imbuh Mori, bila perlu, jumlah SMK diperbanyak ketimbang SMA. Mori berharap, keberpihakan pemerintah terhadap SMK ini jelas. Para pengambil kebijakan di dalam tata kelola SMK, harus melakukan pemetaan yang baik terhadap potensi sekolah. Tentunya, dengan melibatkan para pemangku kepentingan, mulai dari siswa, guru, termasuk lapangan pekerjaannya.

“Kita ingin satu SMK, punya satu produk unggulan. Yang ketiga, kita harus memastikan, bahwa SMK itu memang lapangan pekerjaannya yang lebih banyak kita butuhkan. Kalau yang lebih banyak perbengkelan, ya bengkel. Kalau lebih banyak salon, ya salon. Kalau lebih banyak restoran ya restoran. Ini yang kita harapkan,” ujarnya.

Dalam pernyataan penutupnya, TGA menegaskan bahwa kami Ahyar-Mori tak membangun NTB sendirian. NTB harus dimajukan bersama-sama.

“Kami, Ahyar-Mori siap mengabdikan diri, untuk kemajuan NTB. Untuk itu, kami bersyukur senantiasa didampingi oleh perempuan luar biasa. Istri kami, kami ajak semua. Perempuan, bersama Ahyar-Mori membangun NTB. Kita saat ini berada di pintu bulan Ramadhan. Kami, Ahyar-Mori mengajak semua menghadapi Pilkada ini dengan hati dan niat yang bersih. Pilihan boleh beda, tapi kita harus tetap saling hormat dan menjaga,” pungkasnya. (tim)