Diusung PPP, Ahyar Cerita Mimpi di Depan Kabah

Mataram (suarantb.com) – Akhirnya kegalauan dan ketidakpastian yang dirasakan Walikota Mataram, Ahyar Abduh akan nasibnya di tangan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terjawab sudah. Pasca penyerahan SK dukungan DPP PPP pada pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Ahyar Abduh-Mori Hanafi, Rabu, 20 September 2017.

Ahyar membawakan pidato politiknya didampingi Mori Hanafi. Ia bercerita tentang mimpi yang dialami seorang teman sebelum ia mendapat SK PPP. “Kawan saya tadi pagi menyampaikan mimpinya, kalau saya berada di hadapan Kabah. Rupanya ini, saya merupakan bagian keluarga besar dari partai berlambang Kabah,” selorohnya.

Baca juga:  Dukungan PPP di Loteng dan Sumbawa Belum Jelas

Ahyar dan Mori mengusung nama paket Aman (Ahyar Abduh-Mori Hanafi). Ahyar memuji pemberian nama tersebut oleh Ketua DPW PPP NTB, Hj Wartiah. Menurut Ahyar, ia dan  Mori merupakan pasangan yang pas, jumlah huruf dalam masing-masing nama pun terdiri atas sepuluh huruf.

“Pas namanya, kata ahli-ahli huruf itu, jumlahnya juga sama-sama sepuluh. Ini juga tanggal 20, luar biasa! Ini tidak lepas dari takdir Allah. Ini pertanda kita untuk terus bekerja dan bergerak dengan niat yang baik, cara yang baik, tujuan yang baik yaitu untuk kebaikan warga NTB,” ujarnya.

Baca juga:  Dukungan PPP di Loteng dan Sumbawa Belum Jelas

SK ini menurut Ahyar menjadi bentuk kepercayaan PPP atas dirinya untuk meraih kesuksesan pada Pilgub NTB tahun 2018. Di tengah kian memuncak dan memanasnya situasi politik di NTB menjelang pilkada serentak, SK tersebut ibarat penerang di tengah kebingungan membaca arah dukungan tiap partai.

“Inilah partai pertama di NTB yang mengeluarkan SK nya pada dua orang, bakal calon gubernur dan wakil gubernur. Bahkan hari ini lah starting point kami untuk melakukan kegiatan-kegiatan politik. Saya tambah berkeyakinan untuk terus berikhtiar melaksanakan amanah partai. Menjadikan masyarakat NTB lebih baik, mencarikan solusi untuk permasalahan yang sedang dan akan dihadapi oleh masyarakat NTB,” tuturnya.

Baca juga:  Dukungan PPP di Loteng dan Sumbawa Belum Jelas

Disinggung tentang alasan tidak menempuh jalur independen, Ahyar mengaku lebih memilih jalur partai politik (parpol). Sebab, keberadaan parpol sendiri sudah mengartikulasikan kepentingan-kepentingan masyarakat NTB. Harapannya, parpol nanti pula akan bertindak sebagai pengawas jika ia berhasil menjabat NTB 1. (ros)