Pilgub NTB 2018, Sunarpi Disarankan Maju Lewat Jalur Parpol

Mataram (suarantb.com) – Rektor Universitas Mataram (Unram), Prof. Dr. Ir. H. Sunarpi, Ph.D disarankan menggunakan jalur partai politik (parpol) untuk maju Pilgub NTB 2018 mendatang. Pasalnya, jika maju lewat jalur independen dinilai merupakan pilihan yang sulit di tengah keterbatasan waktu yang ada.

Hal tersebut dikatakan Pengamat Politik dari IAIN Mataram, Agus, M.Si kepada wartawan, Senin, 14 November 2016. Menurutnya, keinginan Sunarpi untuk maju menjadi salah satu kandidat calon gubernur akan sulit terealisasi jika memilih jalur independen.

Namun untuk dapat menarik dukungan dari Parpol, Sunarpi harus mampu meyakinkan Parpol. Bahwa dirinya memang layak untuk mendapatkan dukungan. Salah satunya dengan cara meningkatkan popularitas dan elektabilitas.

“Tidak menutup kemungkinan pada 2018 akademisi (Unram) dilirik partai tergantung elektabilitas dia (Sunarpi),” ujar Agus.

Sebagai pengamat, ia menilai syarat untuk menjadi calon independen pada Pilkada 2018 cukup berat. Hal itu akan menyulitkan Sunarpi jika harus menggunakan jalur independen. Ditambah lagi dengan waktu yang tersisa kurang dari dua tahun.

“Saya kira ini akan menjadi lebih sulit. Kecuali dari awal dia sudah mempersiapkan diri. Ini agak susah menurut bacaan saya,” kata mantan anggota KPU NTB ini.

Agus menilai jauh lebih realistis bagi Sunarpi untuk maju pada Pilgub 2018 menggunakan jalur Parpol. Tentu saja dengan modal popularitas dan elektabilitas yang mumpuni untuk meyakinkan Parpol pengusung.

“Peluang Sunarpi tergantung elektabilitas juga. Dia tergantung (mau) menjual apa. Menjual ide apa untuk NTB. Dan seberapa besar dia meyakinkan parpol saja. Sunarpi saya kira harus mampu meyakinkan partai,” ucapnya.

Meski begitu, lanjut Agus, hal lain yang harus diperhatikan oleh Sunarpi jika nantinya memilih jalur parpol adalah kondisi yang rentan gesekan kepentingan. Suhu politik yang dinamis itu harus menjadi perhatian penting Sunarpi yang berlatar belakang akademisi. Karena parpol memiliki pola kerja dan pendekatan yang berbeda dengan pola kerja seorang akademisi.

“Tapi yang saya khawatirkan di partai kan persaingannya keras. Dan saya khawatir akademisi tidak siap karena tidak terbiasa dengan hal itu,” katanya. (ast)