Dinamika Kandidat Jelang Pilkada 2018 (3)

Kiai Zul : Jangan Pilih Pemimpin yang Ambisius

Dr. KH. Zulkifli Muhadli, SH., MM adalah salah seorang ‘alumnus’ Pilkada 2013 yang diprediksi akan kembali menjajaki peluangnya di 2018. Meski sudah banyak digadang-gadang, namun Kyai Zul memastikan dirinya belum menentukan sikap, apakah akan maju atau tidak. Ia memilih pasif karena menganggap jabatan tidak untuk dikejar-kejar.

Menggandeng Prof. Dr. Ir. H. M. Ichsan, Kyai Zul harus berhadapan dengan superioritas duet Dr. TGH. M. Zainul Majdi yang pada Pilkada 2013 berpasangan dengan H. Muh. Amin, SH, M.Si (TGB-Amin). Duet TGB-Amin menang cukup telak. Mereka meraih 1.038.642 (44,36 persen) suara. Sementara, pasangan Zul-Ichsan hanya bisa meraih peringkat kedua dengan 620.614 (26,5 persen) suara. Posisi ketiga perolehan suara diraih pasangan Harum dengan 498.422 (21,29 persen) suara lalu pasangan SJP-Johan dengan 183.824 (7,85 persen) suara.

Kepada Suara NTB yang mewawancarainya, Minggu, 10 Juli 2016, Kyai Zul menuturkan keikutsertaannya tersebut menjadi salah satu penyebab ia mulai ramai digadang sebagai Bakal Calon Gubernur NTB 2018. Selain status sebagai alumnus Pilkada 2013, Kyai Zul juga pernah menjabat Bupati Kabupaten Sumbawa Barat selama dua periode alias 10 tahun. Posisinya sebagai Ketua DPW PBB NTB juga membuat dirinya kerap harus menghadapi proses komunikasi  politik dengan aktor politik lainnya.

Menurut Kyai Zul, di internal partainya sendiri ia sudah harus berhadapan dengan aspirasi yang memintanya mencalonkan diri di Pilkada 2018. “PBB itu menyuarakan itu, menginginkan itu, menghendaki saya untuk dicalonkan, didukung sebagai calon Gubernur NTB 2018,” ujarnya.

Di luar partainya, Kyai Zul juga mulai harus berhadapan dengan para pendukungnya di Pilkada 2013 lalu. “Mereka yang pernah mendukung saya pada 2013 itu, saat ini bertanya-tanya. Ada yang bertanya langsung kepada saya. Ada yang bertanya kepada kawan-kawan yang lain. Pertanyaannya itu, apakah saya akan maju kembali pada tahun 2018 yang akan datang?”

Menurutnya, jika ia memutuskan maju, para pendukungnya tersebut sudah menyatakan siap mendukungnya kembali. Ia menambahkan, sikap semacam ini tidak saja diperlihatkan oleh para pendukungnya di Pilkada 2013. Menurut Kyai Zul, sebagian pendukung TGB pada 2013 juga ada yang menemuinya untuk menanyakan kesediaannya tampil.

“Khususnya orang-orang yang mendukung Bapak Gubernur, Pak TGB, karena beliau tidak akan mungkin maju lagi, sebagian dari mereka pun bertanya, ingin mendukung saya, untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh gubernur hari ini,” ujarnya.

Kyai Zul menegaskan, meski desakan sudah mulai datang, ia merasa belum perlu untuk mempersiapkan diri. Ia menegaskan, dirinya hanya akan bersikap pasif sembari menunggu dinamika yang berkembang.

“Saya mengatakan kepada semua mereka, bahwa saya tidak ingin mencari jabatan. Termasuk tidak ingin mengejar-ngejar jabatan Gubernur di NTB itu. Itu jawaban saya,” ujarnya.

Pada akhirnya, opsi yang akan tersedia mendekati Pilkada 2018 nanti adalah maju atau tidak maju. Kyai Zul menegaskan, ia akan mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang ada. “Kalau suatu hari saya melihat sudah ada calon pemimpin yang dikehendaki rakyat, yang punya kapasitas, tidak merekayasa citra, dan dia benar-benar diharapkan mampu menjadi pemimpin yang adil, saya tidak akan maju. Tapi kalau sampai detik tertentu, titik tertentu, saya belum melihat calon pemimpin seperti itu, saya akan maju. Apabila rakyat menghendaki saya. Karena saya anggap, menjadi pemimpin itu fardhu kifayah. Itu tuntunan agama seperti itu,” pungkasnya. (aan)