Dinamika Kandidat Jelang Pilkada 2018 (2)

Lalu Rudy Srigede, dari Sahabat sampai Srikandi

Kolonel Czi Lalu Rudy Irham Srigede, ST, M.Si adalah salah satu kandidat yang namanya mulai jadi sorotan di bursa kandidat Pilkada NTB 2018. Namanya berkibar berkat sejumlah gebrakannya selama menjabat Danrem 162/WB. Dukungan relawan di media sosial dan di lapangan juga mendongkrak elektabilitasnya.

RUDY yang ditemui Suara NTB di kediamannya belum lama ini bicara blak-blakan tentang pencalonannya. Sejauh ini, Rudy memang belum memastikan apakah ia akan mencalonkan diri atau tidak. Rudy berpendapat, sejauh ini baru satu nama yang sudah mendeklarasikan secara terbuka hajatnya untuk tampil di Pilkada 2018, yaitu Sunardi Ayub.

‘’Yang baru (menyatakan) mencalonkan diri itu hanya Sunardi Ayub. Belum ada namanya Rudy Srigede, belum ada namanya Suhaili, belum ada namanya Ahyar, ndak ada itu. Semua itu masih biasa saja dengan kegiatannya masing-masing,’’ ujar Rudy.

Meski belum menyatakan dengan tegas kesiapannya untuk tampil, sejumlah kalangan sudah mulai mempromosikan dirinya. Hal ini antara lain terlihat dari munculnya kelompok-kelompok relawan yang terafilisasi dengan Rudy.

Tak tanggung-tanggung, jumlah relawan yang terafiliasi dengan dirinya sudah mencapai tak kurang dari 11 kelompok. Salah satu kelompok yang paling depan dalam mengkampanyekan Rudy adalah Sahabat Rudy Srigede. Kelompok relawan yang dipimpin oleh Ocong Diesel ini saat ini sudah melakukan sejumlah terobosan untuk memperkenalkan Rudy kepada khalayak. Salah satunya, melalui pembentukan grup di facebook. Saat ini, grup facebook Sahabat Rudy Srigede sudah memiliki lebih dari 11.000 pengikut dengan beragam latar belakang.

Rudy menyebutkan, daftar kelompok relawan yang bermain di media sosial tidak hanya Sahabat Rudy Srigede. Selain itu, ada pula relawan lain dengan nama yang beragam, namun tetap mencantumkan nama Rudy sebagai identitas mereka. Misalnya saja, Relawan Muda NTB Lalu Rudy Irham Srigede, Sahabat Laris (Lalu Rudy Irham Srigede) hingga Relawan Gerung “Sabar Menanti” Rudy Srigede.

Di facebook, kelompok-kelompok ini punya anggota yang jumlahnya cukup banyak. Sementara di lapangan, sejumlah kelompok relawan juga dibentuk. Rudy bahkan punya kelompok relawan perempuan yang tergabung dalam Srikandi Rudy Srigede. “Mereka mau buat banyak-banyak, ya silakan saja,” ujar Rudy.

Ocong Diesel menegaskan, pembentukan relawan adalah inisiatif mereka sendiri. Ia juga dengan tegas menampik adanya pasokan dana dari Rudy kepada kelompok-kelompok relawan yang dibentuk. Menurut Ocong, adanya dukungan dana justru bisa menyulitkan pembentukan militansi kelompok relawan.

“Justru lebih bagus kalau kita jadi relawan, kita ikhlas. Kalau pakai duit nggak mungkin 11 ribu lebih anggotanya di facebook. Ini kan sesuatu yang cukup luar biasa. Biasanya grup itu kan nggak banyak,’’ ujar Ocong.

Rudy menilai, pembentukan relawan adalah sesuatu tren positif yang memang layak dicontoh dalam model demokrasi kita. Rudy pun tak sungkan mengakui bahwa ini memang dipengaruhi tren serupa di pentas politik nasional – khususnya fenomena Kawan Ahok di Jakarta. Bagi Rudy, mencontoh sebuah terobosan yang positif adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipersoalkan.

Menurut Rudy, pembentukan kelompok relawan bukanlah inisiatif pribadinya. Sejauh ini, sejumlah kelompok relawan bahkan baru melapor kepada dirinya setelah mereka membentuk kelompok. Rudy menganggap, pembentukan kelompok ini adalah hal positif karena mereka juga sering membuat kegiatan positif. Misalnya, ada kelompok yang membagikan sembako di bulan Ramadhan lalu. Kepada kelompok yang memberikan bantuan, Rudy melarang mereka untuk mencantumkan stiker atau aksesoris apapun yang berhubungan dengan dirinya dalam bantuan yang diberikan.

‘’Jangan embel-embel tulis di sembako itu Rudy Srigede. Karena kamu sendiri yang sampaikan. Nanti kalau kamu ngomong ini saya relawan Rudy Srigede, itu silakan saja. Yang penting berpikiran sedekah untuk fakir miskin. Tapi saya salut sama mereka. Ini betul-betul dari hati mereka sendiri,” ujarnya.

Menurut Rudy, dinamika pendukung adalah hal yang bisa dijadikan tolok ukur jika pada saatnya ia harus mengambil keputusan untuk maju atau tidak saat pencalonan dibuka secara resmi.

‘’Dari situ saya akan melangkah ke berikutnya nanti. Saya masih melihat perkembangan itu juga. Karena prosesnya ada. Baik di instansi saya sendiri maupun proses pemilihannya nanti. Sekarang keputusan KPU juga belum final menurut saya. Sudah final tapi masih ada yang mau di-judicial review. Makanya, kita lihat dulu. Jadi semua rata-rata pengalaman dari evaluasi sebelumnya, untuk pendaftaran ada mekanismenya. Untuk menentukan wakil, ada last minute. Itu strategi masing-masing,’’ pungkasnya. (aan)