Dinamika Kandidat Jelang Pilkada 2018 (1)

Meski Masih Malu-malu, Tapi Jelas Punya Minat

Mataram (suarantb.com) – Meski Pilkada NTB masih akan digelar pada 2018 mendatang, namun geliat dan dinamikanya sudah mulai terlihat nyata saat ini. Dinamika politik mencuat di sana-sini dalam berbagai bentuknya. Mulai dari pembentukan relawan-relawan, pemasangan poster dan baliho. Konflik di sejumlah parpol juga ditengarai merupakan dinamika yang tidak bisa dilepaskan dari Pilkada 2018.

Hal itu mengemuka dalam wawancara Suara NTB dengan sejumlah figur dan narasumber yang namanya sudah mulai disebut-sebut dalam bursa pencalonan jelang Pilkada 2018.

Saat ini, kebanyakan figur memang belum memberikan ketegasan menyangkut apakah mereka akan maju atau tidak dalam Pilkada 2018 mendatang.  Namun, hal ini bukan berarti mereka tidak mempersiapkan diri menghadapi suksesi itu. Persiapan itu terlihat dari sejumlah tanda, mulai dari maraknya pembentukan relawan pendukung figur tertentu, hingga pemasangan alat peraga kampanye yang memuat foto figur tersebut.

Wakil Ketua I DPD Partai Demokrat NTB, TGH. Mahalli Fikri meyakini, gejala yang terlihat di permukaan itu sesungguhnya merepresentasikan adanya minat figur tersebut untuk menjajaki panggung kontestasi 2018 mendatang.

“Saya melihat memang kan sekarang, walaupun masih rada malu-malu, tapi sudah ada gerakan baik Pak Rudy maupun Pak Ahyar Abduh. Demikian juga Pak Suhaili, di perbatasan Lombok Timur Lombok Tengah sudah masang spanduk. Apapun, dan sekecil apapun, itu adalah gerakan,” ujar Mahalli. Menurutnya, hal semacam itu memberikan indikasi bahwa para kandidat tersebut punya minat untuk menjadi kontestan pada 2018. “Tetapi masih tensinya belum terlalu tinggi.”

Meski demikian, tak semua sependapat dengan Mahalli. Sejumlah kalangan menganggap, pembentukan relawan maupun pemasangan alat peraga kampanye sejak awal bisa saja bukan inisiatif kandidat. Melainkan, tindakan semacam itu murni berasal dari masyarakat.

“Saya rasa tidak. (Inisiatif) dari mereka. Tidak mungkin (inisiatif orang). Itu pasti ide dari mereka. Saya yakin mereka yang berbiaya juga. Karena kelompok orang-orang yang menyuarakan itu saya lihat orang yang nggak mungkin tidak dibiayai,” ujar Mahalli.

Mahalli menegaskan, dalam budaya politik saat ini, sulit ditemukan kelompok pendukung yang betul-betul siap berkorban untuk kandidat yang ingin didukungnya. “Tidak ada orang berpolitik itu yang pendukungnya betul-betul siap berkorban segalanya. Bahkan, batu di balik udang itu selalu ada kalau di dalam perpolitikan,” ujar Mahalli.

Mahalli menganggap, tren pembentukan relawan semacam ini juga tak terlepas dari pola serupa yang dikembangkan Gubernur incumbent, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Jakarta. “Tren baru itu kan hanya copy paste karena latah karena melihat yang di Jakarta saja,” ujarnya. Meski demikian, Mahalli menilai trik semacam ini tetap memungkinkan untuk dicoba dilakukan di Lombok. (aan)