Polisi Tetapkan Tujuh Pelaku Pembakaran HTI Sebagai Tersangka

Selong (Suara NTB) – Penyidik dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lotim menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Tujuh tersangka itu merupakan bagian dari 31 terduga pelaku aksi pembakaran di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Senang Galih Kecamatan Sambelia pada Rabu, 30 November 2016 lalu.

Mereka ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga memiliki keterkaitan dengan kasus pembakaran hutan berdasarkan keterangan para saksi.

Iklan

Dikonfirmasi di ruangannya, Jumat, 2 Desember 2016, Kapolres Lotim, AKBP. Wingky Adhitiyo Kusumo, SIK, MH melalui Kasat Reskrim Polres Lotim, AKP. Antonius F. Gea mengatakan, ketujuh orang yang ditetapkan sebagai tersangka itu disangkakan karena memiliki keterkaitan antara keterangan saksi-saksi yang lain disertai dengan barang bukti yang ada dalam kasus pembakaran hutan.

Ketujuh pelaku sendiri dijerat Undang-Undang Kehutanan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Terkait dengan puluhan masyarakat lainnya yang sudah diamankan, Antonius yang merupakan Mantan Kasat Reskrim Bima Kota ini menegaskan jika secepatnya akan dipulangkan dengan status wajib lapor. Hal demikian dilakukan karena dari ketujuh orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, tidak menutup kemungkinan akan menceritakan siapa-siapa orang yang paling berperan dalam kasus tersebut.

“Tujuh orang yang sudah kita tetap sebagai tersangka karena memiliki keterkaitan. Sementara, puluhan masyarakat lainnya mungkin hari ini bisa dipulangkan setelah dilakukan pemeriksaan, namun masyarakat yang dipulangkan itu harus wajib lapor,” tegasnya.

Selain itu, Antonius juga menegaskan bahwa, dari hasil penyelidikan maupun penyidikan sementara belum diketahui apakah ada ada oknum yang memerintah atau menyuruh masyarakat untuk melakukan aksi pengerusakan maupun  pembakaran terhadap hutan tersebut. Akan tetapi, kasus tersebut hingga saat ini terus digali akar persoalannya karena merupakan kasus yang sudah lama terjadi.
“Apakah ada orang yang menyuruh masyarakat, sampai saat ini dari hasil penyelidikan tidak ada,” terangnya.

Disinggung terkait dengan pernyataan Bupati Lotim, H. Moch Ali Bin Dachlan yang mengkritik dan menyayangkan penangkapan terhadap puluhan masyarakat Lendang Tengak Desa Senanggalih Kecamatan Sambelia, Antonius mengaku akan segera mengkomunikasikan hal tersebut bersama Pemda Lotim dan PT Sadhana Arifnusa sehingga persoalan itu dapat terselesaikan dengan baik melalui proses mediasi dan kekeluargaan. Bagaimanapun, persoalan ini juga menyangkut hajat hidup masyarakat banyak. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here