Polisi Periksa Alat Elektronik Bule Italia Tersangka Pencabulan Anak

Mataram (Suara NTB) – Barang bukti alat elektronik milik Bruno Gallo (70), tersangka dugaan pencabulan anak didalami. Penyidik Subdit IV PPA Ditreskrimum menggandeng Subdit II Cyber Crime Ditreskrimus. Ada indikasi korban bertambah.

Wadirreskrimum Polda NTB, AKBP Nurodin menjelaskan, pihaknya mengumpulkan telepon genggam, gawai, dan laptop milik tersangka. “Mengambil data yang diperlukan,” ujarnya, Selasa, 7 Maret 2017.

Iklan

“Apakah ada konten yang bisa dijadikan pendukung untuk membuktikan perbuatan pelaku,” imbuh dia ditemui di Mapolda NTB.

Konten-konten itu, sambung dia, berupa foto sejumlah anak yang diduga menjadi korban pencabulan oleh tersangka. “Tersangka itu ada kecenderungan mendokumentasikan kegiatan itu,” terangnya.

Penyidik bersama tim Cyber Crime mengupas konten-konten berupa foto yang diantaranya beberapa anak yang telanjang dengan latar belakang kamar mandi rumah tersangka.

“Dikupas apa saja isinya. Sementara yang sudah dimintai keterangan ada empat korban anak-anak. Dua korban sudah dewasa. Tidak menutup kemungkinan ada korban lain. Dilidik lagi,” terangnya.

Dari penelaahan konten itu, Nurodin tak menampik jika ada kemungkinan korban lain. “Kemungkinan ada orang lain, foto anak-anak lain. tetapi kita lihat apakah yang lain ini dilakukan perbuatan cabul atau tidak,” sebut dia.

Warga negara Italia, Bruno Gallo (70) ditetapkan sebagai tersangka dugaan pencabulan anak, Jumat (3/3) lalu.

Tersangka diduga melakukan pemaksaan dengan mengimingi korbannya uang agar mau melayani perbuatan cabul. Barang bukti yang diamankan penyidik antara lain, laptop, gawai, dan telepon genggam tersangka.

Barang bukti lain yakni foto yang terpampang di dinding rumah tersangka di kawasan perumahan Griya Permata Kota, Selagalas, Cakranegara.

Tersangka yang mantan koki internasional itu disangkakan pasal pasal 76 juncto pasal 81 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 dengan ancaman pidana penjara minimal 5 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling banyak Rp 5 miliar. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here