Polisi Kesulitan Ungkap Kasus Pencabulan

Dompu (Suara NTB) – Satreskrim Polres Dompu sering terkendala alat bukti dalam pengungkapan kasus pencabulan anak. Hal itu mengingat peristiwa tersebut jarang tertangkap basah langsung oleh warga. Karenanya dalam penyelidikan kasus, polisi harus benar-benar kerja ekstra untuk menghadirkan saksi yang bekompeten.

“Kalau banyak orang di sekitarnya, tidak mungkin dia lakukan itu, sehingga dari alat buktinya kita agak kesulitan,” kata Kasatreskrim Polres Dompu, AKP Priyo S, S.IK kepada Suara NTB yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis, 15 Desember 2016.

Iklan

Persoalan alat bukti tersebut juga dipengaruhi pelaku pencabulan dan masyarakat sekitar. Menurutnya, sebagian besar mereka yang terlibat yakni orang yang memang mengenal korbanya, bahkan memiliki hubungan darah.

Tak sedikit dari jumlah kasus yang ditangani itu, masyarakat sekitar enggan menjadi saksi lantaran memiliki hubungan kekeluargaan dengan korban maupun pelaku. Bahkan terhadap pelaku yang tidak ada ikatan apa-apa pun, masyarakat masih kurang aktif.

Sementara itu kata Priyo, untuk kasus persetubuhan anak biasanya antara pelaku dengan korban

seringkali dilakukan oleh orang di sekitar korban. Baik karena hubungan keluarga maupun hubungan asmara. Terhadap kasus karena berawal hubungan asmara, biasanya karena ada yang merasa kecewa dan menempuh jalur hukum. “Kalau untuk kasus anak, orang tua intinya harus lebih peduli. Sementara kaitan dengan pelakunya ini rata-rata mengenal, sedangkan persetubuhan anak biasanya pacarnya sendiri,” jelanya.

Priyo mengatakan, kasus pencabulan dan persetubuhan anak memang mengalami peningkatan di banding tahun sebelumnya, tercatat hingga Desember 2016 ini sudah 29 kasus yang kantongi, namun yang berhasil diselesasikan baru 17 kasus, 13 kasus lainnya masih tahap penyelidikan. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here