Polisi Gerebek Terduga Penembak, Hasilnya Nihil

Mataram (Suara NTB) – Penggerebekan terduga pelaku penembakan dua polisi di Bima Minggu, 17 September 2017 berakhir nihil. Polisi hanya menemukan ibu-ibu dan anak di salah satu tempat persembunyian para pelaku.

“Hari ini belum berhasil, bahkan sudah kosong diduga tempat tinggal pelaku,” ungkap Kapolda NTB, Brigjen. Pol. Drs. Firli, MSi saat ditemui Suara NTB.

Iklan

Ia menyebutkan, para pelaku sudah berpindah ke tempat persembunyian lainnya. ‘’Hanya ada ibu-ibu dan anak-anak di sana. Yang laki-lakinya mereka sudah melarikan diri,’’ imbuhnya.

Polisi sudah mengidentifikasi tuntas para pelaku, baik ciri-ciri maupun rekam jejak hidupnya. Namun, menangkap mereka tak semudah membalik telapak tangan.

Terduga pelaku dan korban saling kenal, lantaran mereka bertetangga dalam konteks hubungan sosial. Istri korban Bripka Gafur, berasal dari Kelurahan Penatoi, Mpunda, Kota Bima.

Tempat sekolah putra korban pun masih di kelurahan yang sama, yang juga menjadi tempat kejadian perkara penembakan pada Senin, 11 September 2017 lalu sekitar pukul 07.15 Wita,  seusai korban mengantar anaknya ke sekolah.

“Menurut korban, dikenal pelakunya. Bahkan sering bertemu, kebetulan istri anggota kita ini tinggal di daerah yang sama dengan orang yang diduga sebagai pelaku,” beber Firli.

Hal itu juga diperkuat dengan hasil penyelidikan tim yang dibentuk Polda NTB yang beranggotakan Densus 88 Anti Teror dan Ditreskrimum Polda NTB.

“Berdasarkan petunjuk itulah dan ada keterangan saksi-saksi lain, bahwa pelaku ini juga punya teman yang sering pergi bermotor. Semua sudah kita kenali,” ungkap Kapolda.

Informasi dihimpun Suara NTB, salah satu korban disebut pernah menyebarkan selebaran di Masjid Istiqomah, Penatoi yang isinya menyudutkan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Sementara satu korban lainnya, pernah terlibat persoalan dengan MN, yang merupakan adik kandung dari BL –mantan napi terorisme yang dihukum 5 tahun 8 bulan di Lapas Nusakambangan dan sudah bebas 7 September lalu.

‘’Belum bisa kita ungkap apakah ada permasalahan sebelumnya atau seperti apa. yang pasti adalah ada penyerangan dengan senjata api rakitan. Yang pasti mereka adalah kelompok radikal,’’ tegas Firli.

Akhir pekan lalu, Kapolda -yang tengah menyelesaikan pendidikan Lemhanas di Jakarta memanfaatkan waktu senggangnya untuk berkunjung ke Bima.

Jenderal bintang satu lulusan Akpol 1990 itu juga menyempatkan berkoordinasi dengan jajaran pemerintah setempat.

Masyarakat Bima menyuarakan penyesalannya perihal sikap kepolisian yang lantas menyebut penembakan polisi tersebut adalah aksi terorisme.

Firli berpandangan, penembakan polisi oleh sipil bersenjata bukanlah perkara kriminalitas konvensional. Apalagi melihat rekam jejak TKP serta para pelaku yang berhasil diidentifikasi.

“Yang pasti sampai hari ini identifikasi kita, tidak ada bukti kalau itu hanya kriminal biasa karena tidak pernah ribut. Anggota polisi pun tidak pernah ribut,” jelasnya.

Kalau pun dia berkelahi, tentu akan berkelahi dulu, itu kalau kriminal biasa. Tapi kenapa ini tiba-tiba melakukan penyerangan, itu yang membuat hal ini terkait dengan gerakan radikal.

“Kalau sudah tertangkap pasti akan terungkap bagaimana ini sesungguhnya. Namanya (terduga pelaku) kita tahu. Tapi tidak ada alasan itu hanya kriminal biasa,” ujarnya, menegaskan penembakan tersebut adalah aksi terorisme.

Firli memastikan situasi NTB khususnya Bima kondusif meskipun pada awal pekan lalu diwarni aksi penembakan polisi. (why)