Polisi Ancam Pidanakan Penimbun Masker

Ilustrasi Warga Negara Asing. (Blesk.cz)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB mengawasi distributor masker di sekitar Mataram. Ada sembilan pemasok yang dilakukan inspeksi mendadak (sidak) Selasa, 3 Maret 2020. Polisi mengincar para penimbun yang tujuannya mengambil untung di tengah kepanikan masyarakat akibat virus Corona dan tingginya pembelian masker.

‘’Jika ditemukan ada yang menimbun, kami akan melakukan penindakan,’’ tegas Direktur Reskrimsus Polda NTB, Kombes Pol. I Gusti Putu Gede Ekawana Putra kepada Suara NTB, Kamis, 5 Maret 2020.  Ancaman pidana itu berpeluang dilakukan dengan dasar peraturan perindustrian dan perdagangan melalui fungsi Subdit 1 Industri Perdagangan (Indag) yang dibawahinya.

Iklan

Kelangkaan masker dan mahalnya harga ini membuka peluang dimanfaatkan oleh oknum tertentu. Tergiur dengan harga masker pat gulipat,  bisa saja menurutnya memunculkan ide pembuatan masker palsu. Oknum yang melakukan praktik ini juga diincarnya untuk ditindak.

‘’Kalau sampai ada pelaku yang menjual masker palsu, kita tindak,’’ jelasnya.

Sementara Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto menambahkan, operasi sidak itu sebelumnya dilakukan tim dari Ditreskrimsus gabungan dengan Dinas Perdagangan Provinsi NTB dan Dinas Kesehatan Kota Mataram.  Sidak sebagai bagian dari penyelidikan ini, terkait kelangkaan dan tingginya masker sejak beberapa hari terakhir.

‘’Ada sembilan distributor Alkes dan suplier masker yang ada di Kota Mataram dilakukan sidak oleh tim,’’ kata Kabid Humas.

Berdasarkan hasil koordinasi dan cek lapangan itu, diperoleh informasi para suplier masker dan distributor Alkes, produk sudah dipesan dan didatangkan dari Pulau Jawa. Namun pasokan terhenti sejak Februari lalu karena stok dari Pulau Jawa semakin menipis, sehingga suplai ke NTB macet.

‘’Suplai distributor masker dari Pulau Jawa ke NTB terhenti sejak dua sampai tiga minggu lalu. Bisa jadi karena memang permintaan yang begitu besar,’’ ujarnya.

Analisa lapangan dan hasil permintaan keterangan dari para supplier, stok masker sudah habis dibeli masyarakat  jauh sebelum Presiden RI mengumumkan dua orang positif Corona di Jakarta.

‘’Di samping itu, stok yang ada sudah habis dibeli oleh konsumen untuk dikirimkan ke keluarganya yang ada di luar negeri. Sehingga terjadi kelangkaan,’’ ujarnya.

Sementara informasi dari UPT Farmasi Kota Mataram, sebenarnya masih ada stok barang. Jumlahnya sekitar 30.000 pcs. Itu pun menurut keterangan diperoleh tim, terbatas untuk  keperluan medis di Puskesmas di Kota Mataram. ‘’UPT juga menyimpan untuk persediaan sekitar lima atau enam bulan ke depan dan tidak diperjualbelikan untuk umum,’’ tegasnya.

Hasil sidak itu kemudian dibahas dengan berbagai pihak, tujuannya merumuskan solusi dan langkah antisipasi semakin langka dan mahalnya harga masker.

Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan,  Dinas Kesehatan  dan distributor Alkes  untuk mengusahakan ketersediaan bahan masker di wilayah NTB agar tercukupi. (ars)