Polda Tangkap Tekong di Balik Penyelundupan 26 Warga NTB

Penyidik Unit TPPO Subdit IV Ditreskrimum Polda NTB menggiring tersangka pengiriman 26 CPMI unprosedural asal NTB, PA alias Andre (kanan), Sabtu, 11 April 2021 di Mapolda NTB di Mataram usai upaya penangkapan di Jakarta Timur, Jakarta Jumat, 10 April 2021.(Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 26 warga NTB calon pekerja migran Indonesia (CPMI) digagalkan keberangkatannya ke Timur Tengah. Mereka diduga korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang sudah tiga bulan mendekam di penampungan. Polda NTB menangkap tersangka tekong yang merekrut dan hendak mengirimkan korban secara ilegal.

Tersangka tekong berinisial PA alias Andre (33) ditangkap Jumat, 9 April 2021 di Jakarta Timur, Jakarta. “Dia berperan ganda, sebagai agen di NTB dan agen di Jakarta yang mengirimkan korban secara unprosedural,” ucap Kanit TPPO Subdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB Iptu Endro Yudi Sasmoko ditemui Sabtu, 10 April 2021.

Iklan

Penangkapan Andre ini merupakan tindaklanjut dari pencegahan keberangkatan 26 CPMI asal NTB pada Senin, 7 April 2021. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Jakarta menemukan mereka di Apartemen MOI Tower Santa Monica, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jakarta. Rinciannya, sembilan perempuan asal Lombok Barat, delapan perempuan asal Lombok Barat, dan sembilan perempuan asal Lombok Timur. Mereka akan dikirim ke Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Sambil menanti pemberangkatan, mereka ditempatkan dalam kamar berukuran 45 meter persegi yang diisi sampai 16 orang.

“Korban ditampung antara dua bulan sampai tiga bulan. Ada juga yang sudah empat bulan,” sebut Hendro. Para korban kini sudah dipindahkan ke rumah perlindungan BP2MI Jakarta di Jakarta dan sedang dalam proses pemulangan ke daerah asal. Hendro menyebutkan para korban ini direkrut Andre dengan berbagai iming-iming. Seperti gaji tinggi Rp7 juta per bulan dengan pekerjaan pembantu rumah tangga, dan uang pangkal untuk korban antara Rp3-5 juta.

“Dia juga menjanjikan korban selesai kerja bisa langsung haji atau umroh,” terangnya. Andre yang bermukim di Jempong Baru, Jempong, Sekarbela Mataram ini bukan pemain baru. Andre sebelumnya memang buronan Polda NTB atas kasus perdagangan orang dengan korban yang diberangkatkan ilegal ke Irak. “Untuk yang perkara yang itu dia sudah tersangka, dia ini buron karena dua kali panggilan pemeriksaan dia tidak hadir,” jelas Hendro.

Rupanya Andre belum jera. Walaupun sudah terjerat kasus hukum, Andre masih bekerja memberangkatkan CPMI ke luar negeri dengan tidak sesuai prosedur. Bahkan korbannya melonjak sampai 26 orang. Andre saat diwawancara mengakui bahwa dia mengurusi segala keperluan korbannya. Mulai dari akomodasi, transportasi, kesehatan, pengurusan paspor, dan dokumen keberangkatan.

Untuk setiap orang yang direkrut, dia diberi ongkos antara Rp20 juta sampai Rp23 juta. “Sisa ngurus-ngurus itulah dapatnya saya, paling Rp2 juta, Rp3 juta. Yang kirim ada dari perusahaan, ada dari luar (agen negara tujuan),” ungkapnya. (why)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional