Polda NTB Usut Tersangka Lain Kasus Alat Peraga SD KLU

Direktur Reskrimsus Polda NTB, Kombes Pol Syamsudin Baharuddin (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB mengusut dua rekanan proyek pengadaan alat peraga berbasis IT untuk 33 SD di KLU. Mereka disangka ikut berkongkalikong dalam proyek senilai Rp4,9 miliar tahun 2014. Sementara, pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek, Astari Tapun sedang menjalani persidangan.

“Tidak ada yang berkasnya tidak selesai, masih kok itu dikerjakan sama penyidik,” kata Direktur Reskrimsus Polda NTB, Kombes Pol Syamsudin Baharuddin, menjawab soal proses hukum tersangka lain kasus tersebut.

Iklan

Dia mengonfirmasi penyidikan tersangka lain, yakni NS Direktur PT Citra Inti Usaha serta Direktur CV Cahaya Nusa Tenggara, NM. Citra Inti Usaha memasok alat peraga kepada Cahaya Nusa Tenggara yang memenangkan tender dengan kontrak Rp4,9 miliar. Dua nama itu disebut dan sudah bersaksi di persidangan terdakwa Astari Tapun.

“Berkasnya belum dinyatakan lengkap oleh jaksa,” kata Syamsudin. Pihaknya tidak perlu menunggu fakta persidangan sebab tersangka lain itu sudah diproses dalam berkas terpisah.

Dalam surat dakwaan yang diajukan jaksa penuntut umum di Pengadilan Negeri Tipikor Mataram, NM yang bekerjasama dengan NS disebut kongkalikong ketika mengikuti tender di tahun 2014. Yakni mengajukan penawaran dengan tiga perusahaan yang harganya hampir identik.

Antara lain, CV Cahaya Nusa Tenggara menawar Rp4,92 miliar; CV Nusa Abadi menawar Rp4,94 miliar; dan CV Bayu Perkasa dengan penawaran Rp4,96 miliar. Tender kemudian dimenangkan PT Cahaya Nusa Tenggara pimpinan Nurmiati.

Proses pendaftaran termasuk penyusunan penawaran tiga perusahaan tersebut tidak dilakukan oleh masing-masing direktur, akan tetapi dilakukan dan dikendalikan sendiri oleh NS.

Di persidangan juga terungkap kerugian negara sebesar Rp787,9 juta yang timbul dari HPS yang kemahalan, sehingga menyebabkan keuntungan yang tidak wajar diperoleh rekanan pemenang tender. (why)