Polda NTB Usut Event Lombok Marathon

Mataram (Suara NTB) – Sebagai bagian dari masyarakat NTB, Kapolda  NTB Brigjen Pol. Drs. Firli, M.Si mengaku kecewa dengan penyelenggaraan Lombok Marathon 2017, yang berlangsung Minggu, 28 Januari 2018.  Ia melihat ada indikasi pidana pada penyelenggaraan  kegiatan itu dan meminta jajarannya di Ditreskrimsus dan Ditreskrimum untuk turun mengusut.

Kapolda NTB mengaku hadir di lokasi bersama Wakil Gubernur NTB H. Muh. Amin,SH. M.Si menyaksikan langsung kekacauan itu. Bagaimana para atlet dari dalam dan luar negeri melakukan protes, hanya karena belum mendapat medali dan kaos dari panitia.

Iklan

‘’Ini memalukan. Ini tidak boleh terjadi. Saya sayangkan NTB jadi ternoda,’’ sesal Kapolda di Gedung Sasana Dharma Polda NTB, Senin, 29 Januari 2018. Semakin miris ketika Kapolda melihat Wakil Gubernur diprotes oleh peserta dari daerah lain.

Dalam konsep kegiatan yang diketahui Kapolda, seharusnya peserta begitu sampai finish diberikan medali dan kaos. Namun sampai pukul  09.30 Wita, belum ada penyerahan sesuai dijanjikan.

‘’Saya akhirnya terpaksa ikut campur urus ini. Kita tampilkan sebagian peserta, kita berikan medali. Kalau tidak begitu, bisa konflik besar, sebab ini 5.000 orang hadir,’’ sebutnya.

Karena melihat ada indikasi masalah pada penyelenggaraan itu, ia memerintahkan langsung  Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) untuk mengusut. Sejumlah pihak dipanggil dan dimintai keterangan malam setelah acara, termasuk Ketua KONI NTB, Andy Hadianto.

“Malam itu juga, panitia kita periksa,” sebutnya. Namun delik yang dijerat dalam penyelidikan awal itu belum diungkapkan.

Menurut  Kapolda, masih dalam konteks penyelidikan awal terkait besarnya pungutan para peserta, dicocokkan dengan pengumuman panitia dan realisasi, sesuai pengumuman di website dunialari.com.

Karena ada hubungannya dengan website, maka penelusuran akan melibatkan Ditreskrimsus.

Selanjutnya akan ditelusuri dalam website itu berupa kampanye kegiatan, pendaftaran, serta besaran pungutan. ‘’Itu nanti lanjutan ke Ditreskrimsus, Cybercrime, mereka harus buka web dunia lari itu,” jelasnya.   Kapolda menginginkan,  dengan proses  hukum itu, akan mengungkap kemungkinan  unsur pidana atau tidak.  Bagaimana kemungkinan menelusuri penggunaan APBD? ‘’Itu kita akan cek juga nanti,’’ tandasnya.

Di luar itu,  kejadian ini  menjadi bahan evaluasi khusus pihaknya bersama Pemprov NTB dan Pemkot Mataram. Dia meminta kepada jajarannya untuk memperketat izin kegiatan, khususnya event nasional. Penekanan itu juga disampaikan ke Pemkot Mataram.

‘’Kalau  tidak  benar, jangan dikasi izin,’’ tegasnya.

Baginya, peristiwa ini adalaah benih konflik,  jika tidak diredam akan membias, apalagi melibatkan warga dari daerah lain pesertanya.  Ia membayangkan ketika protes atlet meledak, kemudian  dimasuki provokasi, maka bisa memicu konflik  yang memperparah citra daerah.

KONI Siap Diperiksa

Ketua KONI NTB Andy Hadianto mengaku kooperatif jika memang penyelenggaraan Lombok Marathon 2017 itu diusut Polda NTB. Bahkan sebelumnya, ia mengaku sudah  diperiksa penyidik Polda NTB, terkait kegaduhan peserta kegiatan itu.

‘’Memang benar saya dan beberapa panitia lainnya dimintai keterangan. Saya sudah berikan keterangan dan jelaskan persoalannya seperti apa,” ujarnya di Mataram, Senin, 29 Januari 2018.

Penyidik menanyakan juga soal sumber anggaran. Meski tidak menyebutkan besaran anggaran yang digunakan dalam kegiatan itu, namun ia mengaku dana yang dipakai kurang, memaksanya merogoh kocek sendiri.

Bahkan ia  balik mempertanyakan jika uang dari peserta cukup besar. ‘’Siapa bilang kalau 4.000 peserta bayar semua? Biaya pendaftaran yang Rp 650 ribu itu dibayar oleh 1.300 orang, sisanya gratis. Yang bilang saya dapat uang sampai Rp 3 miliar itu keliru,’’ tegasnya.

Setidaknya 4.000 ribu peserta yang mengikuti kegiatan Lombok Marathon itu. Ini merupakan Lombok Marathon kedua yang diselenggarakan. Pada awalnya Lombok Marathon kedua ini akan diselenggarakan pada 3 Desember 2017. Namun karena terjadi erupsi Gunung Agung, kegiatannya pun ditunda hingga 28 Januari 2018.

Hanya saja kegiatan ini berakhir ricuh karena adanya keterlambatan pembagian medali. “Memang betul ada keterlambatan pembagian medali. Itu karena medali yang akan dibagikan baru tiba pada pukul 09.00 Wita. Itulah yang membuat suasana di finish menjadi ricuh,” ujarnya.

Pihaknya juga akan melakukan evaluasi terhadap rekanan yang menjadi event organizer kegiatan ini, yaitu dunialari.com. Meski demikian, pihaknya juga berharap bagi peserta yang belum mendapatkan medali agar kembali melaporkan diri. Sebab masih ada 100 medali yang belum dibagikan kepada finisher.

‘’Intinya kemarin itu para peserta tidak sabar. Begitu medali datang dan ditaruh di salah satu tenda, peserta datang dan suasana menjadi ribut. Akhirnya kita bariskan dan bagikan secara tertib,’’ ujarnya. Berkaitan dengan keterangan yang diberikan di Polda NTB, ia berharap semuanya menjadi jelas. Setelah memberikan keterangan dan kronologi kejadian, ia juga berharap tidak ada lagi berita buruk tentang kegiatan lari tersebut. (ars/lin)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional